Sabtu, 01 Februari 2014

CERPEN - LAGU LARA LILI MARALI

LAGU LARA LILI MARALI


LILI termangu menatap ranting-ranting cakrawala. Tubuhnya menggigil disetubuhi malam. Hembusan angin menyeruak kesela-sela pepohonan mengalunkan sebuah lagu lara. Kunang-kunang menabur cahaya membiaskan kerinduan. Tetapi Lili tetap tidak goyah sedekitpun. Butiran-butiran air mata terus mengucur deras membasahi kanvas wajahnya. Begitu jelas terlukis kesedihan yang sangat mendalam direlung-relung hatinya.
Malam itupun hujan datang tanpa berkata-kata. Menggaduh segaduh-gaduhnya. Atap rumah mendentum keras terketuk jemari hujan. Lili pun tak beranjak pergi dan tetap duduk di batas malam. Tubuhnya sangat menggigil. Akan tetapi tak terlihat ada niat Lili untuk selangkahpun berteduh dan menghangatkan tubuhnya. Ia membiarkan hujan dari matanya bercampur dengan hujan dari langit-langit kelam.
Entah apa yang sedang dicari dan ditunggu oleh gadis kecil itu. Wajahnya yang dahulu begitu ceria sekarang telah sirna bersama selaksa duka yang melarung dikehidupannya. Lili adalah anak tunggal dari keluarga yang sangat sederhana. Ayahnya, Marali hanya seorang pedagang asongan di stasiun Tanah Abang. Dan Shuli, ibunya telah lama meninggal setelah melahirkannya.
Sejak kecil Lili tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Ayahnyalah yang menggantikan sosok ibu untuk Lili. Ayahnya juga yang memainkan peran yang memang ia punya sebagai seorang ayah.
Langit yang temaram di pandanginya dengan tatapan kosong. Titik-titik air yang terus berjatuhan membuka tirai-tirai kenangan tentang ayahnya.
Ayah adalah sosok pahlawan yang sangat dikagumi Lili. Sudah hampir 15 tahun ayahnya merawat Lili dengan segala pengorbanan yang luar biasa. Bila Lili mengingat cucuran keringat ayahnya yang tiada henti mengalir dari kening sampai ke daun bibirnya, Lili pun tak kuasa menahan air mata yang tumpah ruah membasahi wajahnya yang begitu lugu.
Tubuh Lili semakin menggigil dan hatinya terus bergerak untuk meminta otaknya mengulang kejadian hari ini. Lili pun menutup matanya dan masuk kedalam lumbung ingatan.
***
Pagi itu hari sangat cerah. Matahari mulai mengintip di balik birunya awan. Ayahnya sudah siap untuk pergi ke stasiun untuk berdagang asongan. Tetapi ada sesuatu yang berbeda yang dirasakan Lili dalam hatinya.
“Lili, ayah berangkat ke stasiun dulu ya?” Ujar ayahnya dengan wajah yang begitu lesuh.
“Iya! Oiya hari ini Lili boleh ikut ayah ya ke stasiun?” Ucap Lili dengan penuh pengharapan dan wajah yang gelisah.
“Jangan Sayang! Kamu belajar saja. Besokkan kamu Ujian Nasional di sekolah.”
“Hanya sebentar kok Yah. Nanti kalau sudah siang Lili pulang sendiri dari stasiun!”
“Jangan anakku!”
“Tapi Lili mau ikut ayah hari ini. Entah kenapa hari ini Lili ingin sekali bersama ayah! Lili khawatir dengan kondisi ayah hari ini. Tidak apa-apa ya Yah?” Lili mencoba membujuk ayahnya dan memasang wajah yang begitu berharap.
“Ya sudah. Tapi janji nanti setelah dzuhur kamu langsung pulang dan belajar untuk besok ya Nak!”
“Iya Yah, Lili janji!” Ujar Lili lirih penuh senyuman.
Lili dan ayahnya pun bergegas pergi ke stasiun Tanah Abang untuk berdagang. Sepanjang perjalanan Lili tidak pernah melepaskan jemarinya yang bertaut dengan jemari ayahnya. Dengan suara yang merdu Lili pun bernyanyi sebuah lagu kesukaan mereka berdua. Ayahnya tersenyum lebar mendengar Lili menyanyikan lagu itu. Tiap langkah kaki mereka pun bersambut kebahagiaan.
Sesampainya Lili dan ayahnya di stasiun. Meraka pun langsung menjajakan dagangannya kepada orang-orang yang berada di stasiun. Satu persatu kereta berlalu lalang di stasiun, menaikan dan menurunkan penumpangnya. Lili dengan suara yang lantang terus membantu ayahnya untuk menawarkan dagangannya kepada orang-orang.
“Permen, rokok, tisu! Permen, rokok, tisu! Permen, rokok, tisu!” Ujar Lili dengan suara yang lantang.
Sesekali ayahnya menatap wajah Lili dengan penuh rasa bangga. Lili tidak pernah malu untuk berdagang bersama ayahnya. Lili juga tidak pernah mengeluh dengan pekerjaan itu. Padahal banyak teman-teman Lili di sekolah yang mempunyai orang tua yang mampu. Teman-temannya pun sering mengejek Lili dengan kata-kata yang baru saja diteriakan olehnya. Tetapi Lili selalu tegar. Ia bahkan bangga dengan perjuangan ayahnya untuk terus menafkahinya dari ia baru lahir sampai sekarang bersekolah di kelas IX SMP.
Sering kali ucapan syukur terlontar dari kedua bibir Lili yang tipis. Lili sangat bersyukur karena ia masih bisa bersekolah walaupun dengan perjuangan dari ayahnya yang sangat luar biasa. Banyak teman-teman Lili di rumah yang tidak bisa meneruskan sekolah karena biaya. Padahal ayah-ayah mereka juga sama seperti ayah Lili, pedagang asongan di beberapa stasiun. Itulah yang membuat Lili semangat bersekolah dan memiliki cita-cita menjadi pengusaha sukses untuk membahagiakan ayahnya.
Adzan dzuhur pun berkumandang. Lili dan ayahnya bergegas menuju masjid yang berada dekat dari stasiun. Setelah sampai mereka pun berwudhu lalu solat berjamaah. Seusai solat, Lili mencium tangan ayahnya. Terlihat begitu indah keakraban yang mereka jalin.
“Lili mencintai ayah karena Allah!” Ujar Lili dengan lirih.
Tak terbendung lagi butiran-butiran kristal dari kedua mata Lili dan ayahnya. Senyuman bahagia terlukis jelas di wajah mereka. Kebahagiaan tidak membutuhkan banyak harta, karena kebahagian adalah sederhana untuk mereka. Kasih sayang adalah kunci mereka menadapatkan kebahagiaan tersebut.
“Ayah juga mencintai Lili karena Allah!” Ujar Ayahnya mengharu biru.
“Lili senang ayah memberikanku nama Lili Marali. Karena satu-satunya pahlawan yang paling Lili kagumi adalah ayah. Dan nama ayah yang berada di belakang namaku itu adalah sebuah kebanggaan terbesar untuk Lili. Lili harap kita akan seperti namaku ya Yah! Tidak akan terpisah. Dengan adanya nama ayah ini, maka segala tentang ayah akan selalu terukir selamanya dalam lembaran hidup Lili.” Ujar Lili dengan terisak.
Sesaat kemudian ayahnya memeluk dan mencium kening Lili. Air matanya tak bisa berhenti menetes karena mendengar perkataan Lili tadi. Rasa sakitnya yang sebelumnya dirasakan, kini tiada lagi terasa. Bagi ayahnya Lili adalah obat dari kesakitannya itu.
“Ayah bangga mempunyai anak seperti Lili! Ayah bangga sekali!”
“Lili juga sangat bangga mempunyai ayah seperti ayah Marali! Buat Lili ayah adalah ayah yang paling hebat di dunia ini.” Ujar Lili dengan senyuman yang sangat manis dan indah yang dirasakan oleh ayahnya.
Lili dan ayahnya saling menatap dengan tatapan penuh kasih sayang. Dalam pikiran mereka hanya ada satu hal, saling memberi kebahagiaan. Itu yang membuat hidup mereka sangat harmonis dan bahagia.
“Terima kasih ya Allah, Engkau telah memberikanku anak yang berbakti dan soleha seperti Lili. Lili adalah satu-satunya harta yang paling berharga di dalam hidupku. Apabila jasadku sudah tak bernyawa lagi, jagalah ia dan berikanlah selimut kasih sayang-Mu, agar ia tidak pernah merasa sedih dalam menjalani hidupnya.” Ujar ayah dalam hati.
Setelah mereka selasai berbincang. Lili pun bergegas untuk pulang ke rumah. Lili mencium tangan ayahnya dan segera pamit.
“Ayah, Lili pulang ya! Ayah jaga diri baik-baik. Kalau sakit, jangan dipaksakan berdagangnya. Ayah langsung pulang saja, istirahat.” Ujar Lili dengan lirih.
“Iya anakku sayang! Kamu pulangnya hati-hati ya Nak! Ingat sampai di rumah langsung belajar!” Ujar ayahnya lalu mencium kening Lili.
Setelah berpamitan, Lili pun melangkahkan kakinya untuk pulang ke rumah. Ayahnya kembali melanjutkan berdagang di stasiun.
Di pertengahan jalan, ada sesuatu yang mengganjal dalam hati Lili. Entah kenapa kekhawatirannya kembali muncul. Tetapi Lili mencoba untuk menghilangkan bayang-bayang negatif yang ada dalam pikirannya.
Sesampainya Lili di rumah. Ia segera merapikan rumahnya dan mandi, lalu Lili pun belajar untuk Ujian Nasional besok.
Tak lama kemudian, ada seseorang yang mengetuk pintu rumahnya. Lili pun segera menghampiri orang tersebut.
“Eh, pak Tejo! Ada apa ke sini?” Ujar Lili menyapa.
“Nak Lili sabar ya! Ada kabar duka. Ayah kamu meninggal dunia.” Ujar pak Tejo dengan nada sedu.
“Astagfirullahhal’adzim! Pak Tejo serius... ayah kenapa?” Ujar Lili dengan wajah pucat dan sangat terkejut.
“Ayahmu tadi terjatuh dari kereta. Ia kehilangan keseimbangan saat di berada di depan pintu masuk kereta. Sepertinya memang ia sedang sakit. Sekarang jasadnya sudah dibawa ke rumah sakit Nak Lili!” Tandas pak Tejo menjelaskan kronologinya kepada Lili.
“Ya Allah ayah! Innalillahi wainnailaihi rojiun...,” ujar Lili sangat terkejut. “Sekarang tolong antarkan Lili ke rumah sakit ya pak Tejo?”
“Iya! Ya sudah kamu kunci rumah dan siap-siap sekarang.”
“Baik Pak!”
Lili dan pak Tejo pun segera berangkat ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan Lili terus menangis dan tak percaya. Ayahnya yang begitu sangat ia sayangi telah meninggal.
Sesampainya Lili di rumah sakit, ia pun langsung menuju ruang jenazah. Lili pun ditunjukan oleh petugas rumah sakit jenazah ayahnya.
“Ini jenazah bapak Marali Dik!” Ujar petugas rumah sakit.
“Ayaaaaaaah...!” Ujar Lili tersontak.
Peristiwa ini begitu sangat mengejutkan hati Lili. Setelah melihat jenazah ayahnya, Lili pun tiba-tiba terjatuh tak sadarkan diri. Pak Tejo dan petugas rumah sakit pun akhirnya mengangkat dan membawa Lili pulang ke rumah.
Sore itupun jenazah ayah Lili di urus oleh warga dan akan segera dimakamkan. Sebelum dimakamkan pak Tejo menyadarkan Lili. Saat Lili tahu bahwa ayahnya akan segara dimakamkan, ia pun langsung memeluk dan mencium wajah ayahnya.
“Ayah! Ayah kenapa pergi meninggalkan Lili?” Ucap Lili kepada jenazah ayahnya. “Lili sayang sama Ayah! Hanya ayah yang Lili punya saat ini... ayah jangan pergi!”
Air mata Lili tiada berhenti melihat ayahnya yang sudah tidak bisa menjawab segala pertanyaannya itu. Pak Tejo pun menarik Lili dan mencoba menenangkan Lili.
Akhirnya warga pun segera mengangkat jenazah Marali dengan keranda untuk segera disolati lalu dimakamkan di tempat pemakaman umum terdekat.
Seusai dimakamkan Lili pun pulang bersama rombongan warga. Sesampainya ia di rumah. Lili merasa begitu hampa. Ia terhanyut dan melayang dalam sepi. Ayahnya, seseorang yang paling ia cintai dan satu-satu orang yang menemani dalam suka dan duka saat ini telah tiada.
***
Langit masih belum berhenti menurunkan butiran-butiran hujan. Lili pun tersadar dalam lamunannya. Ia masih duduk termangu. Kini tiada lagi kegembiraan bersama ayahnya.
Deru-menderu suara angin mengiringi suara Lili yang sumbang. Lagu kesukaan Lili dan ayahnya pun kini telah berganti dengan lagu lara, lagu yang sangat lara.
Jerit batin Lili menjadi gemalau suara yang begitu kacau. Goresan kilat dan suara petir pun begitu menyadarkannya. Bahwa saat ini hidup seorang Lili Marali tak lebih seperti lagu lara yang baru saja ia nyanyikan.***


TelagaSastra, 8 Juni 2012

CERPEN - KATA-KATA MEMBAJAKAN CITA-CITA

KATA-KATA MEMBAJAKAN
CITA-CITA*


KETIKA jemari hujan menyentuh segala apa yang dikenanya hingga terdengar melodi-melodi indah tentang hidup dan kehidupan. Saat itulah Ahmad dengar bibir yang kering dan jari-jari tangan yang lihai terus memetik biji-biji tasbihnya. Zikirnya terus melarung bersama derasnya air hujan yang membasahi atap-atap seng rumahnya.
Ahmad memang dikenal seorang anak yang cerdas dan saleh di kampungnya. Ia merupakan lulusan pesantren terbaik di Jawa Tengah. Selama ia menjadi santri, ia diberikan beasiswa oleh pesentrannya sampai ia lulus, tetapi ia harus mengabdi untuk menutupi segala biaya hidupnya di pesantren.
Sekarang Ahmad telah menyelesaikan pendidikannya di pesantren. Ia pun telah kembali ke rumah dan tinggal bersama kedua orang tuanya. Ayah Ahmad hanyalah seorang loper koran dengan penghasilan yang sedikit dan tak menentu. Sedangkan ibunya hanyalah seorang wanita lumpuh yang tidak dapat bekerja apapun. Setiap hari ibunya hanya terbaring tak berdaya di ranjang.
Hidup yang begitu sulit tidak menyurutkan niat Ahmad untuk terus menggapai cita-citanya. Saat di pesantren pun memang Ahmad sudah memikirkan bagaimana agar ia bisa meneruskan pendidikannya di perguruan tinggi. Tetapi saat ini ada yang menjanggal dalam hati Ahmad, yaitu orang tuanya. Ia masih bingung apakah bapak dan ibunya akan menyetujui dan bisa membiayai kuliahnya nanti. Setelah selesai berzikir di kamar Ahmad pun akhirnya memberanikan dirinya untuk bertanya kepada kedua orang tuanya.
“Pak, Bu aku ingin sekali meneruskan pendidikanku di perguruan tinggi, apakah boleh?” Ujar Ahmad dengan suara yang begitu lirih kepada kedua orang tuanya.
Pertanyaan itu yang dipilihnya dari beberapa pertanyaan yang terbayang di pikirannya. Ia berpikir dengan pertanyaan itu bapak dan ibunya tidak akan begitu terkejut dengan niatnya untuk kuliah.
“Apa benar kamu mau kuliah Nak?” Ucap ibunya dengan nada yang lemah.
“Iya Bu!” Jawab Ahmad dengan tegas.
“Apa kamu punya uang untuk biaya kuliahmu nanti?” Ujar ayahnya. “Kamukan tahu kalau ayah pasti tidak akan mampu membiayakanmu kuliah nanti. Untuk makan saja kita ala kadarnya, apalagi harus membiayaimu kuliah?”
“Aku memang tidak punya uang untuk saat ini Pak!” Jawab Ahmad. “Tapi aku akan berusaha untuk mencari uang dan menggunakan uang itu untuk membiayai kuliahku.” Tambahnya dengan tegas.
“Baiklah kalau itu memang maumu. Bapak dan ibu hanya bisa mendoakanmu saja semoga apapun yang kamu cita-citakan dapat terwujud Nak, amin.” Ucap ayahnya dengan perasaan yang haru.
“Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum Pak, kalau kaum itu tidak mau berusaha untuk mengubahnya. Oleh karena itu, aku ingin sekali bisa menyejahterakan kehidupan kita.” Ujar Ahmad dengan semangat. “Man jadda wa jada, barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil. Bukan begitu Pak?” Tambahnya dengan senyuman lebar ke arah bapak dan ibunya.
“Iya benar itu Nak! Bapak bangga denganmu.” Jawab bapaknya dengan tangisan haru.
Suasana pun menjadi begitu mengharu biru di dalam rumah kecil yang mereka singgahi setelah Ahmad memeluk kedua orang tuanya. Tidaklah bisa dibendung lagi butiran-butiran air mata yang membasahi wajah mereka.
Tidak lama setelah suasana haru itu mereka pun beranjak untuk tidur. Perasaan Ahmad begitu tenang setelah mengemukakan niatnya untuk kuliah di perguruan tinggi. Beralaskan tikar, Ahmad pun berbaring dan mencoba memutar kembali memori tentang percakapannya dengan kiai Qarni di pesantren dahulu.
“Ahmad, nanti setelah kamu lulus dari pesantren ini, janganlah kamu berhenti untuk mencari ilmu.” Ucap kiai dengan tegas. “Mencari ilmu itu wajib bagi seorang muslim Mad, tidak ada batasannya. Sesuai dengan hadis ‘tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat’. Jadi teruslah kamu mencari ilmu yang bermanfaat sampai ragamu benar-benar tak bernyawa lagi.” Tambahnya meyakinkan Ahmad.
“Iya Kiai. Saya akan meneruskan pendidikan saya nanti setelah saya lulus dari pesantren.” Ujar Ahmad dengan mengangguk-anggukan kepalanya.
“Ada sebuah syair dari Az-Zamakhsyari tentang ilmu, ‘Malam-malamku untuk merajut imu yang bisa dipetik, menjauhi wanita elok dan harumnya leher. Aku mondar-mandir untuk menyelesaikan masalah sulit, lebih menggoda dan manis dari berkepit betis nan panjang. Bunyi penaku yang menari di atas kertas-kertas, lebih manis daripada berada di belaian wanita dan kekasih. Bagiku lebih indah melemparkan pasir ke atas kertas daripada gadis-gadis yang menabuh dentuman rebana. Hai orang yang berusaha mencapai kedudukan lewat angannya, sungguh jauh jarak antara orang yang diam dan yang lain naik. Apakah aku tidak tidur selama dua purnama dan engkau tidur nyenyak, setelah itu engkau ingin menyamai derajatku.’ Alangkah mulianya ilmu pengetahuan itu Mad. Alangkah gembiranya jiwa seseorang yang dapat mengusainya. Alangkah segarnya dada orang yang penuh dengannya, dan alangkah leganya perasaan orang yang menguasi ilmu pengetahuan itu.” Ucap kiai Qarni dengan menggebu-gebu.
“Subhanallah! Alangkah indahnya hidup ini Kiai apabila kita mempunyai banyak ilmu pengetahuan.” Ujar Ahmad dengan perasaan yang sangat terkesima dengan ucapan kiai Qarni tadi.
“Benar Mad! Kebahagiaan, kedamaian dan ketentraman hati senantiasa berawal dari ilmu pengetahuan. Itu karena ilmu mampu menembus yang samar, menemukan sesuatu yang hilang dan menyingkap yang tersembunyi. Selain itu, naluri dari jiwa manusia itu adalah selalu ingin mengetahui hal-hal yang baru dan ingin mengungkap sesuatu yang menarik.” Ucap kiai Qarni menyakinkan Ahmad kembali.
Ahmad terdiam dan menatap wajah kiai Qarni yang begitu menyejukan hatinya dengan tatapan kagum akan ucapan-ucapan kiai Qarni kepadanya dan senyuman kiai Qarni yang terlempar jauh merasuk kedalam hati hingga terangkai satu cita-cita Ahmad untuk menjadi seperti kiai Qarni yang cerdas, berpendidikan tinggi, bisa kuliah di Universitas ternama di Mesir dan Arab Saudi lalu mengabdi di pesantrennya sekarang ini.
“Jangan sampai kamu menjadi orang yang bodoh Mad! Kebodohan itu sangat menyedihkan dan membosankan. Karena, orang bodoh itu tidak pernah memunculkan hal baru yang lebih menarik dan segar. Pola hidupnya akan selalu sama saja, yang kemarin seperti hari ini, dan yang hari ini pun akan sama dengan yang kan terjadi esok hari.” Ucap kiai Qarni kembali setelah hening tadi.
“Iya kiai, saya tidak ingin menjadi orang bodoh. Saya ingin menjadi orang yang cerdas seperti kiai Qarni.” Ujar Ahmad dengan tegas.
“Bagus itu Mad, kalau bisa kamu harus lebih baik lagi dari kiai ya?”
“Iya kiai! Saya akan berusaha.”
“Bila kamu ingin senantiasa bahagia baik di dunia maupun di akhirat, tuntutlah ilmu, galilah pengetahuan dan raihlah berbagai manfaat, niscaya semua kesedihan, kepedihan dan kecemasan itu akan sirna Mad. Berdoalah kepada Allah seperti dalam surat Thaha ayat 114, ‘Ya Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.’ InsyaAllah doamu akan terkabul Mad, dengan syarat kamu juga harus berusaha.”
“Baik kiai, saya akan terus berdoa dan berusaha untuk bisa mendapatkan derajat yang tinggi sebagai orang yang memiliki banyak ilmu pengetahuan. Terima kasih kiai atas wejangannya.” Ujar Ahmad sekaligus menutup percakapannya dengan kiai Qarni.
Setelah lelah mengingat kenangan tentang awal terukirnya cita-cita untuk terus meneruskan kuliah dan menjadi seorang kiai seperti kiai Qarni. Ahmad pun lelap tertidur dan melayang bersama mimpi indahnya.
***
Di pagi yang sangat cerah, secerah wajah pak Rahim seorang pengusaha yang sangat kaya dan mempunyai sikap yang begitu baik hati. Arif salah satu karyawan di perusahaannya mengajukan surat penguduran diri.
“Maaf Pak, saya tidak bisa melanjutkan bekerja di perusahaan Bapak. Bukan karena saya tidak betah bekerja di sini, tetapi karena ada sesuatu hal yang mengharuskan saya untuk pindah ke Aceh dan menetap di sana bersama anak dan istri saya.” Ujar Arif penuh takzim.
“Kalau seperti itu saya tidak bisa melarang kamu Rif. Ya sudah mulai besok kamu tidak perlu ke kantor lagi. Segeralah urus perpindahanmu ke Aceh. Walaupun sangat berat saya melepaskan seorang karyawan yang jujur dan sangat saya percaya seperti kamu, tetapi apa boleh buat kalau itu sudah menjadi keputusan kamu.” Ujar pak Rahim dengan lesuh.
“Terima kasih Pak, maaf apabila saya mengecewakan Bapak selama ini.”
“Kamu tidak pernah mengecewakan saya Rif, kamu sangat jujur. Saya sangat senang dengan pekerjaanmu. Mungkin tidak akan saya temukan lagi orang yang lebih baik dari kamu di perusahaan ini.”
“Bapak terlalu berlebihan memuji saya. Saya punya kenalan Pak, teman saya di pesantren waktu itu. Ia sangat cerdas, mempunyai sikap yang baik dan sangat jujur. Mungkin ia bisa menggantikan saya di sini!”
“Siapa namanya? Kalau begitu suruh ia besok menghadap saya dan suruh ia segera menyerahkan segala persyaratan untuk melamar menjadi karyawan di sini.”
“Ahmad Pak namanya! Baiklah kalau seperti itu saya akan sampaikan. Saya mohon pamit untuk bekerja yang terakhir Pak di sini.” Ujar Arif dengan tersenyum.
“Baik. Terima kasih Rif. Semoga sukses nanti di Aceh ya.” Ujar pak Rahim menutup percakapan mereka.
Suasana kantor pun berjalan seperti biasanya. Semua karyawan dengan tertib mengerjakan pekerjaannya tanpa mengeluh dengan apa yang diperintahkan oleh pak Rahim, seorang pimpinan perusahaan yang tidak hanya berwibawa tapi juga memiliki perangai yang  sangat baik.
***
Senja pun telah datang. Suasana semakin teduh karena matahari telah terbenam. Arif dari kantornya. Ia pun mampir ke rumah Ahmad untuk menyampaikan pesan dari pak Rahim untuk segera bertemu dengannya dan menyerahkan lamaran ke perusahaan sekaligus pamit akan pindah ke Aceh bersama keluarganya.
“Mad, besok aku akan pindah ke Aceh bersama keluarga. Maafin aku ya kalau kira-kira banyak melakukan salah sama kamu selama ini.” Ujar Arif.
“Loh, kok mendadak benar Rif!” Ujar Ahmad terkejut.
“Iya Mad, disuruh sama ibuku untuk mengurusi perkebunan di sana sekaligus merawatnya. Kan ibuku sendiri di sana, kasian juga ia kan sudah tua.”
“Oo begitu Rif. Ya sudahlah, semoga selamat ya diperjalanan nanti dan juga semoga kamu bisa sukses di Aceh.”
“Amin, terima kasih Mad. Oiya Mad, aku disuruh direktur perusahaanku untuk mencari ganti. Nah, aku ingin kamu yang menggantikan aku di sana. Besok kamu temui pak Rahim dan bawa segala keperluan lamaran ya?”
“Serius kamu Rif? Aku memang sedang mencari kerja.” Ujar Ahmad terkejut.
“Seriuslah. Ya sudah itu saja yang aku mau sampaikan. Aku mau pamit.”
“Alhamdulillah, baiklah kalau begitu. Besok aku akan ke perusahaan pak Rahim. Terima kasih Rif kabarnya. Hati-hati kamu pulangnya. Baik-baiklah di Aceh nanti.”
“Iya Mad. Tenang saja akan aku kabarkan nanti kalau sudah sampai sana.”
Setelah kepergian Arif pulang, Ahmad langsung bersujud syukur atas kabar yang begitu mengejutkannya ini. Tidak habis-habis lidahnya mengucap syukur kepada Allah. Ahmad pun segera memberitahukan kepada orang tuanya dan segera mempersiapkan segala keperluan untuk lamaran kerjanya besok.
***
Pagi menyambut senyum dan semangat Ahmad untuk melangkah keluar rumah. Tepat pukul 08.00 Ahmad sudah sampai di perusahaan pak Rahim dan segera menemui dan menyerahkan lamarannya kepada pak Rahim.
“Selamat pagi Pak! Saya Ahmad rekannya Arif, mantan karyawan Bapak.” Ujar Ahmad penuh takzim.
“Selamat Pagi. Ya silahkan masuk.” Ujar pak Rahim dengan senyuman.
“Kemarin saya mendapat kabar kalau Bapak menyuruh saya untuk bertemu dengan Bapak hari ini sekaligus memberikan lamaran kerja ini.”
“Iya benar! Saya sudah mendengar cerita dari Arif tentang kamu.”
Setelah lama berbincang, akhirnya Ahmad pun diterima oleh pak Rahim untuk bekerja di perusahaannya. Dengan senang hati Ahmad mulai bekerja di perusahaan pak Rahim. Dan mulai saat itulah Ahmad bisa menabung untuk biaya kuliah dengan hasil kerjanya di perusahaan pak Rahim.
***
Satu tahun sudah Ahmad bekerja dengan baik di perusahaan pak Rahim. Uang yang ditabungnya pun sudah cukup untuk membiayai kuliahnya. Pak Rahim yang sudah begitu mengenal Ahmad dengan baik mengetahui bahwa Ahmad ingin sekali meneruskan pendidikannya di perguruan tinggi. Akhirnya pak Rahim dengan senang hati ingin membantu Ahmad membiayai dan mencari perguruan tinggi yang terbaik untuknya.
Sampai pada suatu saat ada informasi tentang beasiswa untuk kuliah di perguruan tinggi terbaik di Mesir. Pak Rahim pun mendaftarkan Ahmad. Ahmad pun dengan senang hati menyambut baik niat pak Rahim.
Akhirnya, setelah hasil pengumuman calon mahasiswa yang akan mendapatkan beasiswa ke perguruan tinggi di Mesir. Nama Ahmad adalah nama yang paling pertama tercantum dalam hasil pengumuman tersebut.
Segala sujud syukur dipersembahkan, segala puji-pujian terhaturkan kepada Allah. Hingga bibir Ahmad pun kering, lidah lelah mengucap, keningnya pun terpahat ukiran lantai tempat ia besujud. Inilah perjuangan Ahmad untuk terus menuntut ilmu, mewujudkan cita-citanya, mencapai derajat tertinggi dengan ilmu dan menggapai kebahagiaan yang sesungguhnya.***

TelagaSastra, 29 Mei 2012
 


*      Terinspirasi materi “Nikmatnya Ilmu Pengetahuan” dari buku Lá¾¶ Taḫzan karya Dr. ‘Aidh Al-Qarni, hlm. 66.

CERPEN - PELABUHAN CINTA

PELABUHAN CINTA*

24 Agustus....
Saat malam menyapa dunia. Kau dan aku duduk berdua di bawah ranting-ranting cakrawala. Kudapati resah di matamu yang telaga. Membawa hujan bersama kata-kata yang tumpah dari kedua bibirmu.
Aku beranjak lalu kulangkahkan kaki perlahan menuju kelopak pantai. Percikan-percikan air laut mendarat mengembuni wajahku. Kau pun menghampiri dan merengkuh tubuhku dari belakang. Aku merasakan kehangatan yang begitu mendalam menyeruak ke relung-relung jantungku.
“Aku mencintaimu....” Terdengar suaramu yang begitu teduh menenangkan hatiku. Suara yang memang begitu sangat ingin kudengar dari kedua daun bibirmu.
Ingin rasanya kuberbalik, dan menatapmu penuh ketulusan. Tapi ada sesuatu yang mencegahku. Hinggaku semakin larung dalam ombak kekecewaanku.
“Bila air mata tak lagi bermakna, dan asaku mungkin telah terhempas tak kamu temukan lagi. Apakah boleh aku menimba maafmu?” Ucapmu lirih.
Lalu kau semakin erat mendekapku. Dan kau sandarkan kepala di pundakku. Membuatku luluh terlarut suasana mesra yang kau ciptakan.
“Sulit untuk kuhapus segala rasa kesal yang telah kamu lakukan Ki!” Ujarku menjawab kata-katamu yang membuatku begitu mengaharu biru di langit hatiku.
Aku berbalik dan melepaskan belenggu dari tubuhmu. Dan saat kulihat butiran-butiran air mata yang tumpah menghujani kedua pipimu yang begitu lembut. Aku pun tak kuasa menahan air mataku juga.
“Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkan aku?” Tanyamu lagi.
Aku termangu melihat gerlap gemintang dari rona-rona matamu. Dan saat itu kulihat ketulusan yang sangat dalam dari kedua mata yang begitu indah.
“Kamu tak perlu melakukan apapun untuk membuatku memaafkanmu sekarang. Yang kubutuhkan saat ini hanyalah ungkapan cinta darimu agar aku benar-benar yakin untuk melabuhkan cintaku padamu. Ya itu saja....”
Setelah aku mengatakan itu, kulihat dari wajahmu seuntai senyum yang begitu manis hingga membenamkan aku dalam pesonamu.
“Aku sangat mencintaimu Bi. Aku sangat-sangat mencintaimu!” Ujarmu penuh kesungguhan.
Selaksa bahagia saat kudengar kau lantunkan kata-kata cinta itu. Serasa tiada kata yang paling indah selain sabda cintamu itu.
“Aku juga mencintaimu Ki!” Sautku ceria.
Dan di sinilah luruh sudah seluruh asaku. Ombak telah berhenti menderu, dan menghapus segala jejak kedukaan kita. Aku rasa ini saat yang tepat untukku ungkapkan segalanya.
Di saat itu mata kita saling menatap seolah berbicara. Aku pun mulai menarik tanganmu dan menautkan jari kita. Aku ingin mengalirkan segenap rasa cinta yang telah larut dalam darahku.
“Apakah aku boleh menjadi air dalam telaga cintamu? Apakah kamu mau menjadi bunga untuk menghiasi vas hatiku yang kosong? Aku benar-benar mencintaimu. Apakah kamu mau menjadi kekasihku?” tanyaku dengan sungguh hati.
Kau terus memandangku dan menggenggam jemariku lebih keras lagi. Lalu kau anggukan kepalamu.
“Kamu boleh menjadi air dalam telagaku! Aku mau menjadi bunga tuk mengisi dan menghiasi vas hatimu! Aku pun juga benar-benar mencintaimu. Dan aku sangat ingin menjadi kekasihmu!” jawabmu penuh kepastian.
Dan saat itulah kau dan aku akan mulai mendayuh perahu untuk pelayaran cinta kita. Ketakutan akan luka tiada lagi ada. Semenjak kita saling mengucapkan janji untuk selalu bersama hingga kita tiada lagi terjaga....
***
16 Desember....
Kau termenung sedih di lobi kampus. Padahal itu tepat seminggu setelah kita diwisuda. Mungkin karena kau telah mengetahui bahwa aku akan pergi meneruskan kuliahku ke luar negeri.
Tepat di mading kampus, namaku tercantum sebagai salah satu mahasiswa pascasarjana yang mendapatkan beasiswa ke University of Australia. Tapi aku tak melihat kebahagiaan atau kebanggaan dari wajahmu. Justru kau malah terlihat sedih dan gelisah.
Aku pun mencoba untuk mendekatimu. Tetapi kau malah memalingkan muka yang basah karena tetesan tangismu.
“Kamu kenapa Sayang?” Ucapaku lirih.
“Aku takut kehilangan kamu. Aku tak bisa jauh dari kamu Bi....” Jawabmu sambil menolehkan muka ke arahku.
Aku belum pernah melihat kesedihan yang begitu mendalam terpancar dari raut wajahmu seperti saat ini. Lalu kucoba untuk menghapus butiran-butiran air mata yang membasahi wajahmu.
“Aku hanya pergi sebentar dan aku janji akan kembali lagi untukmu Sayang!” Ujarku mencoba menenangkanmu.
“Hmm... dua tahun itu bukan sebentar Bi!”
“Iya. Tapi kamu harus tahu, berapa lamapun dan seberapa jauhpun kita berpisah. Hati aku tidak akan goyah untuk mencintai kamu. Cinta aku tak akan usang dan hancur oleh apapun. Cintaku itu selamanya untuk kamu Ki. Kamu yakin itukan?”
“Iya, aku yakin itu!”
Setelah suasana hati kita semakin tenang. Kau coba untuk menyandarkan kepalamu di pundakku. Aku pun berusaha untuk membuatmu selalu merasa teduh dan terlindung dari apapun saat bersamaku.
Saat matahari sudah hampir tenggelam dalam bayang-bayang senja. Kita bergegas untuk pulang ke rumah. Aku mencoba menegarkan langkahku untuk perpisahan ini.
“Besok aku harus pergi ke Australia. Kamu jaga dirimu baik-baik ya di sini.” Ucapku penuh lara.
Aku benar-benar tak kuasa melihat matamu yang begitu sedih. Aku mencoba merangkulmu dan mendekapmu penuh cinta agar pupus sedihmu.
“Iya sayang. Kamu juga jaga diri baik-baik ya di sana. Jangan nakal!” Ujarmu dengan senyuman khasmu yang begitu indah.
Aku tersenyum dan melepaskan pelukanku kepadamu. Aku pun mendaratkan ciumanku ke keningmu. Mungkin ini adalah momen indah yang sangat jarang terjadi selama kita bersama.
“Aku mencintaimu.” Bisikku kedalam lorong-lorong telingamu.
“Aku juga mencintamu.” Ucapmu sangat lirih menggetarkan daun-daun telingaku.
Saat kau berjalan perlahan membuka gerbang rumahmu. Lalu air mataku tak terbendung lagi bergulir satu per satu. Lalu kau berbalik dan menatapku untuk yang terakhir sebelum kau menutup gerbang rumahmu. Aku tahu kau pasti juga merasakan apa yang kurasakan saat ini.
Setelah suasana hening menghembus menyelimuti tubuhku. Aku pun mulai melangkahkan kakiku pergi meninggalkan jejak-jejak yang tak bersambut lagi.
***
17 Mei, dua tahun kemudian....
Kau berdiri di tempat yang sama saat kita menangisi perpisahan dua tahun yang lalu. Kau dengan langkah bahagia membukakan gerbang rumahmu untuk menyambut kedatanganku.
Kini kau bertambah cantik, aku benar-benar merindukanmu. Akhirnya aku bisa melihat kembali wajahmu yang begitu manis, matamu yang telaga dan senyummu yang begitu indah bak pelangi surga.
Kemarin-kemarin aku hanya bisa menuliskan rindu dilembaran-lembaran kertas yang kuubah menjadi sebuah puisi. Tapi sekarang segala yang kuimajinasikan dalam lamunanku menjadi hal nyata. Inilah saatnya aku harus mengungkapkan segala hasratku padamu.
Saat mata kita saling menatap mengalirkan rindu. Aku membuka tasku lalu mengeluarkan kue ulang tahun yang kubeli sebelumnya.
“Selamat ulang tahun ya Sayangku?” ucapku penuh kejutan.
Aku lihat mukamu yang memerah dan bahagia menyaksikan kejutan yang kuberikan. Mungkin kau tak menduga aku akan datang tepat dihari ulang tahunmu.
“Ya Allah, kamu itu Bi. Bisa banget buat aku tersanjung. Terimakasih ya Sayang.” Ujarmu penuh keceriaan.
“Hehe... iya Sayang. Aku masih punya satu kejutan lagi untuk Kamu.” Ucapku sambil merogoh kantung celana mengambil sebuah cincin dan mempersembahkannya kepadamu. “Maukah kamu menjadi istriku?” Tambahku.
“Abi, kamu serius?” Tanyamu heran tak percaya.
“Iya, aku sangat serius. Aku mau meminang kamu jadi istriku?”
“Iya!” Kali ini, kau mengangguk mantap. Dan menatap mataku begitu dalam.
Disaat itu kita sama-sama merasa gemercik cinta telah membasahi hati dan melarungkan kita dalam sebuah samudra yang begitu luas. Kita pun saling mengikrarkan janji untuk selalu setia dalam suka dan duka sampai maut yang memisahkan kita. Dan akhirnya pelayaran cinta kita berlabuh di pelabuhan cinta yang sesungguhnya. ***

*      Pelabuhan Cinta (Terinspirasi dari puisi ‘Kisah Kita’).

TelagaSastra, 8 Mei 2012

CERPEN - SAJAK TERAKHIR - DI PENGHUJUNG SENJA

SAJAK TERAKHIR - DI PENGHUJUNG SENJA

Tuhan melukis lazuardi pada langit sore. Kicau burung-burung mengalunkan nada, terbang bersama daun-daun sepi. Aku menyendiri sembari menatap cakrawala dari jendela kamar. Hatiku berdecak kagum akan lukisan-lukisan Tuhan di dunia ini. Selaksa warna dipadukan, memberikan nyawa pada setiap lukisan-Nya.
Tiba-tiba saja batinku terjaga menikmati sepi. Khayalku berlabuh pada satu kenangan. Kenangan tentang seseorang yang telah melarungkan zat-zat cinta di telaga hatiku.
Satu-persatu kenangan menusuk batinku. Perih sekali, hingga tak kusadari butiran-butiran rasa telah tumpah membasahi wajah. Aku telah coba untuk tidak mengenang hal itu, tetapi sedetikpun memori-memori itu tak bisa berhenti berputar dalam ruang akalku.

***
“Lihatlah lazuardi itu!” Ujarku pada Andin.
“Iya, sungguh indah lukisan Tuhan itu. Mungkin Tuhan menghadiahkannya untuk kita.” Sembari tersenyum, kata-kata itu terujar dari bibir indah Andin.
“Mungkin! Karena hari ini tepat satu tahun kita jadian kan?” Ujarku, lalu tertawa kecil melihat wajah Andin yang begitu lugu.
“Ternyata kamu masih ingat,” Andin pun tersenyum, lalu menutupi sebagian wajahnya karena tertawa riang.
“Iyalah, sudah pasti aku ingat. Satu tahun yang lalu saat kita duduk berdua di taman, berbincang-bincang tentang hidup dan kehidupan kita, lalu kamu dengan wajah yang kaget, hampir saja pingsan karena ditembak dengan lelaki setampan aku!” Ujarku, lalu tertawa.
“Hmm… percaya diri banget! Aku sebenarnya juga tidak mau terima cinta kamu waktu itu, tapi aku terpaksa saja…,”
“Terpaksa? Ya sudahlah kalau kamu terpaksa, sekarang kita sudahi saja!”
“Bercanda sayang…, kamu jadi lelaki ambekan!” Andin pun tertawa melihat wajahku yang pucat karena kaget dengan kata-katanya tadi. “Kalau tahun lalu, aku yang kaget dan hampir pingsan, sekarang kamu yang seperti itu.”
“Huh, dasar jelek!”
Aku dan Andin pun tertawa riang dengan candaan-candaan tadi. Aku menautkan jemariku pada jemari Andin, bersama mengalirkan rasa cinta yang tulus ke dalam hati.
Langit semakin gelap, tetapi aku belum mau beranjak dari kemesraan ini. Andin bersandar pada bahuku. Secangkir cahaya pada lampu taman membiaskan embun-embun cinta kita hingga batas malam.
***
Setelah memori-memori itu berhenti berputar, aku pun tak kuasa lagi menbendung air mata dari kedua bola mataku. Kenangan tentang Andin telah melabuhkanku pada kesedihan.
Kabar duka yang kudapatkan, telah memotong harapan tentang aku dan Andin menjadi serpihan-serpihan luka. Kesedihan semakin menjadi-jadi setelah kubaca sajak terakhir dari Andin yang kuterima darinya tadi pagi.
“Di penghujung senja,” ujarku membatin.
“Aku hanya debu-
yang menempel pada dinding hidup-
bersiap tersapu angin-
lalu pergi dan menempel pada dinding lain…” kubaca membatin kata demi kata pada bait pertama dan  aku hampir tak sanggup meneruskannya.
“Aku hanya butiran pasir-
yang terhampar diluasnya gurun-
tertiup dan terbawa-
kemana pun angin berkehendak…” aku sejenak terhenti membacakannya, rasa sesak dalam hatiku menahanku untuk meneruskan puisi ini.
Setelah usai isakku, aku pun ingin meneruskan kembali membaca puisi terakhir Andin walau bibirku terus saja menggumam tangis. Setiap hela nafas, kuatur agar tetap tegar untuk menghabiskan membacanya.
“Aku hanya makhluk di penghujung senja-
yang siap tertidur di malam-
lalu terbangun di pagi-
dan berjalan pada rute hidup yang lain…” aku terus mencoba untuk tetap tegar dan meneruskan membaca bait terakhir dari puisi terakhir Andin.
“Kekasih…-
aku bukan meninggalkanmu pada dunia yang rapuh-
tetapi aku hanya mendahuluimu saja-
percayalah kita hanya terpisah sementara-
dan yakinlah kita kan jumpa lagi selamanya…” usai sudah kubaca membatin puisi Andin. Rasa sesak dalam hatiku kembali merengkuh dan masuk ke dalam sela-sela napas.
Air mataku seperti sungai, tiada henti melarungkan duka. Kedukaan tentang kekasih yang begitu sangat kucintai, kini telah tiada.
Mataku pun lelah, tubuhku terjatuh pada lantai kamar yang dingin, hingga tubuhku begitu gigil. Dan tanpa sadar mimpi telah membawaku pergi.
***
Dalam keheningan, aku duduk di teras rumah. Kunang-kunang menjadi satu-satunya cahaya yang menerangi sudut-sudut jalan. Tiba-tiba saja aku terkejut melihat Andin yang tersenyum dan melangkah dengan pasti ke arahku.
Aku baru saja mengikuti pemakamannya siang tadi.  Tetapi saat ini aku melihat Andin bergaun sutra melangkah ke arahku lalu ikut duduk bersamaku di sini.
Kutatap wajah Andin, dia begitu pucat. Andin hanya tersenyum tanpa mengucapkan satu kata pun. Aku yang tak percaya dengan hal ini pun berlari dan meninggalkan Andin di teras rumah. Tetapi semakin jauh aku berlari, aku semakin sadar bahwa ini bukan jalan yang biasa kulewati, jalan-jalan yang kulalui terasa begitu asing.
Mula-mula kutemui jalan yang luas dengan dua lentera yang menempel pada tiap sudutnya, lalu jalan itu semakin sempit dan semakin sempit hingga tak kutemukan lagi cahaya.
Seketika lelah terasa disekujur tubuhku, aku tak kuasa lagi menahan tubuhku untuk tetap seimbang berlari di jalan sempit ini, hingga pada akhirnya aku pun terjatuh pada jurang yang begitu gelap dan dingin.
Disaat aku membuka mataku, mencoba terjaga dari ketidaksadaraan, aku pun tak dinyana ketika menengok ke samping, yang kulihat adalah Andin yang sedang terbujur kaku di ruang jenazah. Lalu aku pun membangunkan diri, tetapi aku merasakan sakit yang begitu nyeri, seperti tersayat-sayat dan dikuliti. Seketika saja napasku terisak-isak, ternyata rohku tertarik dan terpental ke luar.
Aku pun menemui cahaya yang kueja dalam rebahku. Dan aku semakin terkejut, ketika melihat tubuhku sendiri yang terbujur kaku di samping jenazah Andin.***

Jakarta, 31 Oktober 2012

*direvisi, Jakarta, 19 Desember 2012