Rabu, 14 Mei 2014

KARYA INSPIRATIF - SANG AKTIVIS

SANG AKTIVIS
kepada Idham Fajar Shodiq


SUDILAH kiranya kawan duduk sejenak. Namun, maaf tak banyak yang dapat kusuguhkan, di sini hanya ada bale bambu untuk bersantai dan secangkir cerita yang inspirasinya kudapat dari seorang teman. Inspirasi itu memang terkadang datang darimana saja, bisa datang lewat lengang jendela, dari pintu-pintu, dan terkadang dari atap yang rembes karena rintik hujan yang mengendap di plafon pun bisa. Ya, begitulah. Itu karena inspirasi adalah sebentuk cerita yang datangnya dari mata air air mata yang mengandungi segala cita, baik canda, tawa, tangis, duka, dan hikmah yang datangnya dari sang Maha Cinta.
Kebetulan ada lomba menulis karya inspiratif dari GAPAI. Sebenarnya tidak terlalu berharap menjadi juara karena bukan itu tujuan utamaku menulis cerita ini, hanya saja aku ingin kalian mengetahui cerita dariku, anggaplah sebagai cerita biasa. Namun, apalah artinya sebuah karya bila tak menjadi manfaat dan bagi Tuhan tak menjadi nilai ibadah juga. Selain itu, aku memang ingin mengenalkan temanku yang sangat luar biasa. Namanya Idham Fajar Shodiq, dia temanku di kampus. Kami sama-sama kuliah di sebuah universitas swasta di Jakarta. Kami pun memiliki cita-cita yang sama, yaitu menjadi seorang guru. Ya, agar kelak dapat digugu dan ditiru, begitulah yang kami tahu dari dulu. Oleh karena itu, kami sama-sama menimba ilmu di FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan). Namun, bedanya dia mengambil program studi Pendidikan Matematika dan aku mengambil program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Awal pertemuanku dengannya adalah di masjid At-Taqwa, tepat di belakang kampusku. Aku masih ingat sekali, ketika itu aku baru saja merapalkan takbir sebagai tanda sebermulanya solatku. Namun, mataku yang tadinya khusuk dalam bayang-bayang Illahi pada sejadah panjang masjid terubah pandangnya pada seseorang yang tak berdiri dalam solatnya, dia hanya duduk saja dengan kedua kakinya yang berselonjor. Hah? Kuperjelas padanganku, ternyata satu di antara kakinya adalah kaki palsu. Ya, aku terkejut dan hilang khusuk dalam peribadatan rutin siang itu.
Solat pun berakhir dengan dua salam. Namun, aku masih terbebani pikiran, “Hebat betul orang ini! Dalam ketidaksempurnaan fisiknya saja, dia masih mau mengingat Tuhan, sedangkan di luar sana, banyak sekali orang-orang yang sibuk dan menyibukan dirinya serta menuhankan kesibukannya dengan tak menyisihkan sejenak waktunya untuk beribadah, bersujud, menyembah Tuhan Yang Maha Kuasa,” ujar batinku.
Semenjak pertemuan itu, aku mulai sedikit mengamatinya. Dia ternyata mahasiswa yang rajin dan senang mengikuti kajian-kajian di masjid dan di kampus. Sampai pada saat ada sebuah informasi terkait pengkaderan sebuah organisasi di fakultas kami. Aku dikagetkan dengan kabar yang mengatakan bahwa di HIMA PMIPA (Himpunan Mahasiswa Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam) ada seorang peserta yang menggunakan kaki palsu, tetapi mau mengikuti LKTD (Latihan Kepemimpinan Tingkat Dasar). “Pasti dia!” Dalam benakku meyakinkan. “Memang hebat betul semangatnya.”
Setelah selesai LKTD, aku yang masih tak enak badan karena lelahnya, mulai bertanya-tanya, “Apakah dia mampu mengikuti LKTD ini sampai usai dengan ketidaksempurnaannya, sedang aku saja yang tak bercacat merasa super-super capeknya karena segudang materi dan mesti naik turun di puncak pada malam hari dengan sejuta teka-teki permainan dari senior-senior HIMA?” Pertanyaan-pertanyaan itu muncul dalam benakku dan terjawab beberapa hari setelahnya, ketika ada beberapa teman yang menceritakan tentang dia yang hebat, semangat, cerdas, dan tak pernah rendah diri atas kekurangannya itu.
***
 Tak terasa, sudah satu tahun kuliah. Ini adalah masanya aku menjadi seorang aktivis. Pelantikan adalah gerbang awal, sebuah janji terpatri dalam dada-dadaku dan rekan-rekan aktivis yang lain. Di atas panggung aula itu, aku melihatnya, tapi aku sudah tahu namanya, Idham. begitulah rekan-rekan memanggilnya.
Tak lama dari pelantikan, aku sudah cukup akrab bertegur sapa dengan Idham. Aku semakin tahu sepak terjangnya di kampus. Menjadi aktivis HIMA PMIPA dan menjadi aktivis yang aku pun tak mengikutinya karena merasa tak akan sanggup membagi diri kalau harus mengikuti banyak oraganisasi, yaitu PK IMM FKIP UHAMKA. Dia memang benar-benar menyukai berorganisasi karena dia berpikir bahwa organisasi adalah tahap awal untuk mengubah pribadi menjadi lebih teroganisir dan ketika lulus nanti dapat menjadi teladan yang baik. Selain itu, dia berpikir untuk apa merasa minder dengan kekurangan, “Toh, tiap manusia itu punya kekurangannya masing-masing kan, Lal? Hanya saja aku ditakdirkan Allah memiliki kekurangan fisik dan aku yakin Allah telah mengirim suatu kelebihan padaku sebagai gantinya. Maka haruskah aku menjadi seseorang yang murung dan terasing dalam pergaulan? Tidak kan? Aku tidak mau masuk ke dalam golongan orang-orang yang tak bersyukur, Allah telah banyak memberi dalam hidup dan kehidupanku. Jadi tidak ada alasan aku mengkufurinya.” Kata-kata yang keluar dari mulutnya itu seketika tersadap dalam benakku, mencabik-cabik rasa hatiku. Aku belum banyak mengetahui tentang bagaimana hidup ini, tapi dia sudah mampu menjadi pribadi yang tangguh dalam hidup ini. Aku menjadi sadar bahwa aku pun penuh celah, celih, dan bercacat. Meski tak pada jasad, namun pada hati dan pikiran ini yang selalu menganggap bahwa hidup tak ubahnya membuang waktu dan diriku serupa kemalasan yang kubentuk-bentuk sendiri rupanya. Di situlah kusadari kecacatanku.
Pernah sekali aku turut dalam kegiatan dari HIMA PMIPA. Outing Class ke UNY dan UGM di Yogyakarta. Betapa rasa kagumku kembali tumbuh karena dipupukinya dengan pembuktian semangatnya. Idham menjadi seorang ketua pelaksana dalam kegiatan sebesar itu. Aku dengar ceritanya dalam memperjuangkan kegiatan ini.
Di perjalanan menuju Yogyakarta saja, sosok aktivis yang satu ini semakin terlihat ketangguhannya. Dia mempersilakan aku untuk duduk di dalam bis, sedang dia berdiri dengan kakinya. Aku sudah mencoba menolak, tapi dia tetap tak membiarkan aku berdiri, “Ayolah duduk, tamu undangan harus dijamu dengan baik.” Begitulah candanya dan tetap memaksaku untuk duduk. Berjam, berhari, hingga kembali ke Jakarta aku sudah mengantongi banyak sekali cerita, ilmu dan tertulari semangat luar biasa Idham.
***
            Hari-hari terus berganti, ketika malam menjelma angka, pagi pun angka, dan senja yang berkali kutinggal serupa jemari tiada hingga. Aku sudah masuk pada semester akhir dalam masa perkuliahanku. Walaupun menjelang akhir perkuliahan ini ada tugas akhir yang mesti kuselesaikan sebagai titik akhirnya. Namun aku tak pernah meninggalkan organisasi. Begitu jua Idham. Kami yang sebelumnya sama-sama tergabung dalam DPM FKIP UHAMKA sebagai lembaga legislatif tertinggi di FKIP, dan sekarang telah memasuki fase berlembaga di tingkat universitas, Idham aktif sebagai Ketua Komisi II MPM UHAMKA, sedangkan aku lebih memilih menjadi staff KEMENDIK BEM UHAMKA.
Satu di antara program kerja KEMENDIK BEM UHAMKA adalah UHAMKA Menyala, yaitu suatu gerakan relawan mengajar di yayasan atau daerah-daerah yang membutuhkan pendidikan dan segala kebutuhannya. Dari sinilah aku mulai memupuk jiwa sosialku lebih dalam lagi, bahwa hidup itu mesti berbagi karena kebaikan harus didistribusikan. Aku menyenangi kegiatan ini, sampai pada saat aku dan rekanku di BEM UHAMKA mengunjungi sebuah yayasan yatim-piatu dia daerah Jakarta Selatan kembali dikejutkan dengan ulah si Idham, aktivis yang luar biasa itu. Ternyata dia sudah hampir lebih dari dua tahun mengajar di yayasan itu. Alangkah malu aku sebagai pribadi yang dianugerahi tubuh yang sempurna, namun baru menyadari bahwa hidup itu mesti berbagi. Sedangkan Idham yang hanya memiliki satu kaki saja tak pernah mengeluhkan hidupnya dan selalu menebar benih-benih kebaikannya di mana saja, hingga terlihat benih itu tumbuh menjadi akar yang kuat, batang yang kokoh, reranting yang bersambut lebat dipenuhi dedaun yang menyejukan hati setiap orang yang memandangnya.
Maka nikmat Tuhan kamu yang mana yang kamu dustakan?***

Jakarta, 15 Mei 2014

Rabu, 02 April 2014

CERPEN - SIMSALABIM ABRAKADABRA

SIMSALABIM ABRAKADABRA


Lagi musimnya orang-orang cari muka. Lagi musimnya orang-orang cari modal kampanyenya, tapi biasa saja kan? Toh, sudah banyak dari mereka yang telah merusak kepercayaan kita.
Kau mungkin satu di antara mereka?
Iya ataupun tidak. Tidak ada salahnya kan kalau aku bercerita? Toh, ini hanya sebuah cerita, mungkin bisa juga jadi canda tawa. Ya, bisa pula jadi renungan para manusia dan pemimpin bangsanya.
Duduklah sejenak, kan kuceritakan padamu duka-lara makhluk-makhluk selain kita karena ulah manusia. Setelah itu, mungkin bisa pula ada kata maaf yang harus kita selulerkan pada mereka.
Namanya Ruwo, lengkapnya Gondo Ruwo. Entah kenapa ia dinamakan seperti itu? Mungkin saja karena rambutnya yang panjang dan/atau ia yang bermukim lama di sebuah pohon dekat tanah kubang yang disebut rawa. Mengada-ngada memang tebakanku, tetapi tentu tak masalah karena bukan itu yang jadi bagian ceritanya.
Pada mulanya ia tinggal dibeberapa pepohonan besar, yang pada umumnya seperti makhluk sebangsanya. Ia sudah ribuan tahun menetap dan hidup sentausa, tetapi sejak orang-orang kampung jadi gila karena harta, hingga seperti sulap, simsalabim abrakadabra! Terubahlah ribuan pepohonan menjadi puluhan gedung-gedung tinggi yang mampu mencakar langit. Terubahlah kampung menjadi kota.
Tidak berperikesetan sekali bukan kita ini?
Ketika kita gencar mengampanyekan HAM, agar manusia diperlakukan secara berperikemanusiaan, tetapi kita lupa bahwa dunia diciptakan Tuhan bukan hanya untuk kita, tetapi juga untuk sebangsa mereka.
Napas-napas pepohonan telah berakhir, bebatang-batang, reranting-ranting, dedaun-daun dan segala rupa darinya telah terubah pula secara simsalabim abrakadabra! Terciptalah segala kebutuhan manusia darinya. Luar biasa bukan bangsa kita, atas nama modernisasi segalanya bisa berubah, termasuk alam.
Bisa pula kukatakan bahwa kita juga sudah tidak berperikepohonan?
Kalau kukatakan semua kebusukan kita, mungkin tak habis nantinya ceritaku ini. Baiklah akan lekas kuceritakan padamu karena kutahu kau pasti punya segudang kesibukan lain, bukan? Sebagai manusia begitulah kodratnya.
***
Kala itu angin sangat menggelitik, daun-daun makin gencar bertasbih, langit berkelir kemerahan, seperti biasa hari akan lahirkan malam. Adzan saling sambut mengumandang. Seorang lelaki keluar dari rumahnya menuju surau dan seorang wanita mengunci rumahnya pertanda tak kan lagi ada aktivitas luar, yang ada hanya mengajarkan anak-anaknya membaca sajak-sajak Tuhan dan bersiap larungi mimpi.
Abdullah seorang yang pandai agamanya, selepas mengajar kitab kuning bergegas menuju rumahnya. Tak jauh, hanya lima menit dari surau jika berjalan kaki, hanya saja kalau kau ingin ke rumahnya mesti berhati-hati karena harus melewati sebuah rawa kecil namun sangat dalam, orang-orang sering menyebutnya Rawa Bolong. Nah, tepat di samping rumah Abdullah ada sebuah pohon belimbing, besar sekali. Mungkin sudah tumbuh sebelum Abdullah dilahirkan.
“Assalamualaikum! Umi! Umi!” Ucap Abdullah ketika telah sampai di rumahnya sembari mengetuk pintu.
“Walaikumsalam!” Sahut-menyahut salam dari dalam rumah.
Pintu pun dibuka, di baliknya ada sesuatu yang dinanti, ialah seuntai senyum manis dan pertautan jemari. Aluyahlah sosok di balik pintu itu, ia segera mengambil tangan suaminya dan menciuminya berkali-kali serasa tak bosannya. Disaat itu pula, ada sebuah kening yang basah karena derasnya cinta dan rindu.
“Abi sudah makan?”
“Belum!”
“Ya sudah, yuk segera ke dalam! Anak-anak juga sudah menunggu Abi untuk makan sama-sama.”
“Iya, Sayang!” Balasnya lirih sembari tersenyum.
Kehangatan itu begitu terasa, walau malam menutupi sekujur tubuh kampung dengan dingin karena diam-diam jemari hujan mengetuk-ngetuk atap-atap rumah warga. Dari celah-celah reranting serta dedaunan, ada mata yang mengintip. Mata yang begitu tajam, seperti ujung-ujung jejarum.
Ruwolah pemilik mata itu. Ia tinggal di pohon belimbing samping rumah Abdullah. Sebagai makhluk yang tak sebangsa, Ruwo selalu menjaga hubungan baik dengan Abdullah karena memang tak ada alasan pula untuk ia mengusik. Abdullah sebagai manusia telah begitu baik dengannya. Setiap pekan Abdullah rutin merawat rumah tempat tinggal Ruwo. Menyirami, memotongi benalu, dan menyedekahi segala yang lahir dari rahim reratingnya.
Rekan-rekan sebangsa Ruwo belum tentu seberuntungnya karena banyak pula yang tinggal di pepohonan liar di kampung ini. Pernah Ruwo mendengarkan curhatan rekan-rekannya, ada yang risih dengan kertas-kertas yang ditempeli segelintir orang ketika malam  yang berisi gambar, nomor, foto, dan janji-janji yang memuakkan, ada juga yang tidak betah di rumahnya karena sering sekali menjadi tempat manusia jorok yang mengencingi rumahnya, belum lagi yang menjadi tempat pembuangan sampah, menjadi hingar-bingar para penjudi karena dijadikan tongkrongan mereka, dan lebih-lebih parahnya yang harus pindah-pindah karena sudah mulai banyak pohon yang ditumbangi karena lahan-lahannya akan dibangun menjadi rumah atau gedung-gedung.
Atas dasar itu pulalah Ruwo senantiasa menjaga rumah Abdullah. Pernah sekali ada seseorang yang berniat ingin mencuri di rumah Abdullah. Baru saja mengeluarkan perkakasnya untuk membuka pintu rumah, Ruwo sudah mengejutkannya dengan menampakkan wajahnya di depan pencuri itu. Alhasil, larilah ia sampai terkencing-kencing karena takutnya.
Walaupun saling menjaga, mereka tidak pernah bisa berbincang. Tentu karena Abdullah dan Ruwo dari bangsa yang berbeda. Abdullah melakukan hal itu karena ia sangat menjaga kebersihan dan mencintai pohon. Buktinya saja banyak sekali tumbuhan yang ia rawat disekitaran rumahnya, tumbuhan itu tidak besar-besar karena hanya tumbuh-tumbuhan jagung, singkong, dan berbagai jenis bunga. Hanya satu pohon yang besar, yang berdiri di samping rumahnya yaitu pohon belimbing.
Abdullah sangat menyadari dengan begitu rumahnnya akan terlihat lebih hijau dan mungkin juga dari beberapa bencana. Itupun terbukti ketika hujan terus-menerus turun di kampungnya, seluruh rumah di lingkungannya terkena banjir dan anehnya hanya rumah Abdullah yang tidak. Air yang mengalir melewati halaman rumahnya, dengan mudah menyerap ke dalam tanah. Entah ada atau tidak campur tangan Ruwo atas kejadian ini?
***
Pagi itu menjadi pagi yang begitu berbeda. Ruwo terkejut ketika Abdullah menyapanya. Sejak kapan ia bisa melihatku? Mungkin pertanyan itu yang keluar dari benak Ruwo.
“Kau melihatku, Abdullah?
“Iya, memangnya siapa kau?
“Aku Ruwo, aku penunggu pohon ini.”
“Ruwo?”
“Ya, Ruwo. Oh iya, ada yang ingin aku sampaikan padamu.”
“Katakanlah!”
“Terima kasih kau telah merawat tempatku selama ini. Kuharap kau tak akan pernah menebang pohon ini karena aku dan kau saling membutuhkannya.”
“Bagaimana bisa seperti itu?”
“Tentu bisa, kau lihat bukan kampungmu sekarang? Sudah tak ada lagi yang menanam pohon? Semua orang sudah dibutakan harta, ia tebang sebanyak-banyak pohon dan ia bangun sebanyak-banyak gedung. Ketika sudah datang pada mereka bencana, apalagi yang dapat mereka perbuat?
“Bagaimana kalau aku tetap menebangnya?”
“Kau tak akan selamat.”
“Apa maksudmu?”
“Pikirkanlah itu sendiri, Abdullah!”
Seketika pula Abdullah tak bisa lagi untuk melihat Ruwo. Abdullah terus memikirkan apa-apa yang telah dikatakan Ruwo. Akan tetapi, baginya segala perkataan makhluk-makhluk semacam Ruwo tidak boleh dipercaya.
Abdullah pun masuk ke dalam rumah menyiapkan segala perkakas untuk menebang satu-satunya pohon besar yang ia punya. Dengan golok yang dipegangnya, ia pun menebasi batang pohon belimbing itu hingga pada akhirnya tumbanglah pohon tersebut.
Ruwo yang melihat tempatnya telah dirubuhkan, akhirnya segera pergi dari tempat itu. tak lama kemudian tiba-tiba datang hujan deras mengguyur kampung.
Dalam sehari hujan tak kunjung henti, air semakin lama semakin naik. Tak biasanya rumah Abdullah mulai tergenang air walau hanya sebatas mata kaki. Abdullah hanya berpikir ini hanya sebuah kebetulan saja.
Hari demi hari hujan tak juga kunjung berhenti. Segala macam ritual telah dilakukan, dari melakukan solat penolak bala sampai pada ritual aneh dengan menaburkan garam ke seluruh penjuru kampung. Akan tetapi tetap saja hujan tak kunjung berhenti.
Seluruh warga mulai sibuk mencari tempat untuk mengungsi. Namun, sepanjang mereka cari tak juga mereka temukan. Seluruh daerah telah terkempung banjir. Satu persatu warga mulai terserang penyakit. Penyakit yang sangat aneh. Tubuh mereka menjadi gatal dan dipenuhi oleh bintik-bintik besar seperti bisul. Bayi, anak-anak, remaja, dan orang tua semua terkena penyakit ini. Setiap menitnya selalu saja ada warga yang mati karena ketidaksanggupan mereka menahan sakitnya.
Abdullah semakin gelisah karena hanya tinggal dia yang belum terkena penyakit tersebut. Istri serta anak-anaknya tak luput dari penyakit itu. Ia pun mencari Ruwo untuk mencari cara mengatasi bencana yang begitu besar melanda kampungnya ini.
Di sekeliling rumah sampai ke sekeliling kampung Abdullah terus mencari Ruwo sembari memanggilnya, tetapi tak juga ia temukan dan tak juga mendapat jawaban. Sampai pada akhirnya, Abdullah mulai merasakan penyakit aneh yang diderita seluruh warga kampungnya. Mula-mula muncul bintik-bintik kecil disekujur tubuhnya, lama-kelamaan bintik-bintik tersebut membesar, pecah dan mengelurkan nanah. Nanah itu bercampur pada air yang telah menenggelami kampung setinggi pundak orang dewasa.
Demikian cerita ini. Seperti simsalabim abrakadabra, bukan? Jika manusia sudah tidak bersahabat dengan semua yang Tuhan ciptakan. Entah kutukan apa yang terjadi atas apa yang telah manusia lakukan?***


Jakarta, 22 Februari 2014

Rabu, 12 Maret 2014

NASKAH DRAMA - JOBABA


JOBABA (JOMBLO COBA-COBA)*
: gubahan Jalal Ahmad


Deskripsi Tokoh
Mamad (17 Tahun)
Cowok ganteng, macho, suke musik, labil, bangor, sukenye ngelawan orangtue, dan jomblo level 7.
Ipeh (17 Tahun)
Cewek cantik, bohai, galau melulu, patuh same orangtue, cerewet, galak, over protectif, dan selalu apes kalo masalah cinte.
Dower (19 Tahun)
Cowok tablo, bego, muka jember, veteran, daoyan musik juge, tapi jadi jomblo sampe akhir hayat.
Sobri alias Coboy (17 Tahun)
Cowok ganteng, playboys cap tutut, modis, tajir, dan sombong.
Babeh Pe’i (45 Tahun)
Galak, kaya (punya banyak tanah + kontrakan), genit, dan kasar.
Enyak Mun (40 Tahun)
Matre, keras kepala, cerewet, kage mau ngalah.
Pipih A’im (40 Tahun)
Sibuk, pengusaha tempe, kurang sayang keluarge.
Mimih Ijah (35 Tahun)
Ibu rumah tangge yang baik, perhatian same anak, tapi bawelnye tingkat dewa.
Cewek 1 (+/- 20 Tahunan)
Cewek seksi, penggoda, dan tukang narkoba.
Cewek 2 (+/- 20 Tahunan)
Cewek seksi juga, temennye cewek 1, penggoda, dan tukang narkoba.
Setan (Ribuan Tahun kali Usianye)
Suka ngasut, jail, doyan adu dombain orang, dan koplak.
Malaikat (Gaib dah)
Bae, dan suka nasehatin orang, tapi bences.
Pak Wuswus (40 Tahun)
Guru kocak.
Mas Karso (30 Tahun)
Tukang es dan yang punya warung es-nye, koplak, dan sok tahu.
Fatme (17 Tahun)
Pacarnya Sobri, kompor meleduk.
Mancung (10 Tahun)
Kocak, cerewet, adiknya Ipeh.
Siswa-siswa
Figuran.

  
Adegan 1
ADA SEBUAH WARUNG ES DI PINGGIR JALAN. DI SITU BERKUMPUL SISWA-SISWI PAKAI BAJU PUTIH ABU-ABU. MEREKA BERKUMPUL DAN BERNYAYI BERSAMA. SETELAH LAGU USAI, MEREKA PUN PERGI. ADA YANG KE KANAN DAN ADA YANG KE KIRI. DI WARUNG ES HANYA TINGGAL MAMAD, DOWER DAN MAS KARSO.
MAMAD
Hah… aus juga abis nyanyi-nyayi. Mas Karso, pesen jus mangga satu ya! Enggak pake lama, tapi pake ngutang. (TERTAWA)
MAS KARSO
Alaaaaaah…. Sudah bisa kutebak. Pasti kamu mau ngutang Mad! Sebentar lagi, temanmu yang bibirnya cumlued juga melakukan hal yang sama. (SINIS)
DOWER
(LOGAT BATAK) Mas Kasro… biasa aku, pesan yang sama seperti yang Mamad pesan. (SENYUM-SENYUM)
MAS KARSO
Betulkan, Mad. Kamu ini memang sebelas-duabbelas. Bagai pinang dibelah dua. Tidak ada bedanya.
MAMAD
Daelah, begitu aje udah ngedumel. Lagipula darimane samenye coba, aye same si Dower. Ya jauhlah. Jelas-jelas aye jauh lebih ganteng dari die. Udeh bagaikan langit dengan bumi, tau kage.
MAS KARSO
Maksudku itu, bukan fisiknya, Mad. Tapi kelakuanmu itu loh!
DOWER
Bawel kali kau Mas, kalau tidak mau ngutangin. Ya sudah, tak perlulah kau ungkit-ungkit itu.
MAS KARSO
Yowes, boleh saja kalian ngutang lagi hari ini, tapi ingat besok-besok ndak aku kasih lagi sebelum kalian lunasi utang-utangnya. (MEMBERIKAN SEGELAS JUS MANGGA PADA MAMAD DAN DOWER)
MAMAD DAN DOWER
(MENYERUPUT JUS MANGGA) Yoha, mas broh! (TERTAWA)
MAS KARSO
Yoha yoha! Dasar garem! (GERAM)
MAMAD
Dumel mulu, udeh sana aduk lagi tuh es!
(KEPADA DOWER) Wer, tadi di kelas pak Juju ngapain aja? Aye kebablasan tidur di wc tadi pas boker.
DOWER
Ah, memang kebiasaan kau, Mad. Tidak di mana-mana pasti molor. (MENOYOL KEPALA MAMAD) Ya biasalah bapakmu itu, tak jauh kalau mengajar, (MENIRUKAN PAK JUJU) Hei, baca bukumu! Hei, kerjakan tugasmu! Hei ini, hei itu, sampai bosan aku mendengarnya.
MAMAD
(TERTAWA) Bagusnye aye kage masuk kelas ye tadi. Jadi kage denger die berkicau.
DOWER
(TERTAWA) Kacau kau Mad! Oh iya. Besok kan ada tugas praktek baca puisi dari pak Wuswus. Sudah kau cari puisi apa yang kau baca dan berlatih?
MAMAD
(TEPOK JIDAD) Waduh, iye-ye. Aye baru inget tuh. Puisinya sih udeh aye bikin, tapi aye belom sempet latihan bacenye. elu sendiri gimana Wer?
DOWER
Janganlah kau tanya aku masalah tugas seperti itu, sebagai siswa veteran di kelas, malulah aku kalau belum. Mau dikemanakan pula mukaku nanti? Aku sudah 2 tahun mengulang praktek seperti ini. Tinggal kubaca saja puisiku yang dulu. Lagipula masih sama saja nasibku, dari dulu sampai sekarang, jadi jomblo sepanjang hayat. Tapi… heran aku Mad, apa pula kurangnya aku ini? Ganteng, keren, pintar, dan tidak sombong. Paling-paling, cuma bokek saja kekuranganku itu.
MAMAD
Hah? Barusan ngomong ape? Kalo orang ngimpi, emang jarang ketemu kace sih ye. (TERTAWA) Terus, puisi apaan sih yang mau elu bace?
DOWER
Semperul kau Mad, bilang saja kau sirik.
Puisi yang akan kubaca ini adalah puisi jomblowan-jomblowati. Sebagai jomblo yang baik, kita mesti punya prinsip Mad.
MAMAD
Dah…. Bise gitu. Yaudah cobe lu bace. Aye penasaran mau denger.
DOWER
Kau dengarkan baik-baik puisi ini Mad. Puisi ini kubuat sendiri.
(MULAI MEMBACA DAN BERGAYA) Aku
Kalau sampai waktuku
Kumau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini jomblo senior
Dari kumpulan yang terbuang
Biar caki-maki menembus kupingku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan derita kubawa berlari
Berlari hingga hilang pedih perih
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau jomblo seribu tahun lagi
MAMAD
(TEPOK TANGAN TERUS BUANG MUKA) Perasaan aye pernah denger itu puisi, tapi kayenye kaga begitu kate-katenye.
DOWER
Ngomong apa kau Mad?
MAMAD
Kage pape. Bagus bener puisi lu Wer.
DOWER
Ya jelas. Terus gimana dengan kau Mad?
MAMAD
(MENGAMBIL SEBUAH KERTAS DARI DALAM TASNYA)
Nih puisi yang aye udah buat.
DOWER
Ya sudah, cobalah kau baca. Aku mau dengar sejelek apa puisi kau itu.
MAMAD
Kurang ajar ye nih orang, dasar taplak!
nih denger bae-bae.
(MULAI MEMBACA DAN BERGAYA) Sepi-Sendiri
Di sini begitu sepi
Begitu sepi di sini
Di sini aku sendiri
Sendiri aku di sini
Tapi…
Aku pun bahagia
DOWER
Halah-halah-halah…. Ancur kali puisi kau Mad, sama seperti muka kau itu. (TERTAWA)
MAMAD
Ye… kalo ngomong suke sembarangan aje lu kaya buang sampah.
DOWER
(MERANGKUL MAMAD) Bercandalah aku itu. janganlah kau marah.
MAMAD
Iye-iye.
MAS KARSO
(MUKUL MEJA) Woi! Pada ribut dan berisik saja kalian. Pulang sana. Aku mau tutup warung, sudah mau magrib.
DOWER
Sentimen kali kau Mas, apa gara-gara kita ngutang terus?
MAS KARSO
Bukan. Tadi sudah aku bilang kan. Aku mau tutup, mau pu-upu-el-a-lang, pulang.
MAMAD
Betul Wer, ayolah kite pulang. Udeh mau magrib nih.
DOWER
Ya okelah.
MAMAD DAN DOWER
(SEMBARI MENGAMBIL TAS) Thanks mas Karso!
MAS KARSO
Yowes! Yuarewelcom. (MAMAD DAN DOWER PUN PERGI MENINGGALKAN WARUNG ES)

Adegan 2
DI TERAS RUMAH, ADA BALE BAMBU DI SAMPING-SAMPINGNYA ADA BEBERAPA POHON. RADA GELAP KARENA SUDAH MALAM. IPEH LAGI MELAMUN SAMBIL KESEL DAN NGEGERUTU KARENA HABIS PUTUS SAMA PACARNYA.
IPEH
(MENYANYI DENGAN SENDU)
Dailah nasib aye kok begini amat ye. Kalo udah soal cinte, pasti dah aye gagal.
Cinte-cinte… selalu ngebawe luka ye.
Dari cinte pertame, si Solihun. Aye diputusin cume gare-gare kalo malem pas smsan, aye tinggal molor terus.
Yang kedue, si Rojak. Yang eni brengsek juge nih. cume gare-gare die tau, Pipih aye pengusaha tempe, aye langsung diputusin. kurang ajar bener kan?
Kalo yang ketige, si Ocid. Die entu orangnye aneh, mase tiap jalan terus makan di mane gitu, pasti minte bayarinnye sama aye. Nah, kebetulan aye sengaja waktu entu kaga bawa dompet, otomatis die dong yang ngeluaarin dompet, eh ternyate dompet die isinye cuma bon-bon utang doang. Udeh gare-gare entu akhirnye kite jadi tukang cuci piring sehari dan gare-gare entu juga die mutusin aye.
Terus yang keempat, kelima, keenam dan seterusnye, same aje. Aye diputusin secara tidak berperikemanusiaan, ada yang cuma pacaran seminggu, sehari, sejam, semenit, sedetik dan bahkan ada yang belum jadian, tapi aye udah diputusin duluan. Diputusin kage mau dideketin aye maksudnye. Katenye aye FREAK! Padahal tuh ye, aye udeh seneng bener same die, tiap die lewat, mata aye kedip-kedipin, bibir aye monyong-monyongin, sambil dadah-dadah, dan die cuma lewat tanpa berhenti, tanpa senyum, dan tanpa berkomentar.
Dan cinte aye yang terakhir eni, si Sobri alias Coboy. Die itu ganteng, macho, tajir, modis, dan playboys cap kampret. Kemaren aye diputusin, cuma gare-gare dibilang udeh bosen same aye, dan udeh punye pacar yang lebih cakep lagi dari aye. Bayangin dah, bayangin! Sakit bener nih ati digituin. Emang bajingan bener dah tuh si Sobri.
TIBA-TIBA DARI DALAM ADA SUARA-SUARA MEMANGGIL IPEH.
MIMIH IJAH
Ipeehhhhh. Dailah Mimih panggil dari dalem kage nyaut-nyaut, udeh malem, ayo masuk. Kage bae anak perawan malem-malem gini masih nongkrong aje di luar.
IPEH
Aye kage denger tadi Mih. Aye lagi galau soalnye.
MIMIH IJAH
Ah, Ipeh-Ipeh kerjaan lu cume ngegalau mulu tiap hari. Entar Mimih kawinin juge lu.
IPEH
Yeee… aye masih sekolah Mih! Ngawur aje.
MIMIH IJAH
Yaudeh, sono masuk kamar!
IPEH
Ntar dulu deh Mih, Ipeh masih pengen di mari!
MIMIH IJAH
dahh…. Eni anak kalo diperintah orang tuenye ye, ngelawan aje. Mamih panggilin pipih lo nih!
IPEH
Et-et, jangan Mih! Bentar lagi doang Ipeh di mari!
MIMIH IJAH
Bodo! Pih… Pipih!

PIPIH AIM
(MASUK DENGAN MENAIKAN SARUNGNYA) Ade ape sih lu pade, berek-berekan aje, udeh malem nih.
IPEH
Tau tuh Mimih, Pih. kerjaannya beberekan aje.
MIMIH IJAH
E…e eh, demek, kenapa Mimih yang disalahin, dia entu Mimih mau suruh….
IPEH
(MEMOTONG) Hoaammm…. Ya udeh aye mau masuk, mau tidur! nyuruhnya besok aje Mih! (BERJALAN NINGGALIN MIMIH IJAH DAN PIPIH AIM)
MIMIH IJAH
Dasar kutu kupret! Main nyelonong aje depan orangtuenye. Astagfirullahhaladzim. Mimihnya belum kelar ngomong udah dipotong aje.
PIPIH AIM
Lagi sih Mimih. Udeh malem gini anak masih aje mau disuruh. emang lu mau suruh kemane tuh anak?
MIMIH IJAH
Yah, si Pipih! kena deh akal bulusnye si Ipeh. Mimih tuh tadi makusdnye nyuruh si Ipeh masuk, udeh malem. kan kage bae anak perawan masih di luar malem-malem begini. udeh gitu Pih, kerjaannya ngegalau mulu tuh anak!
PIPIH AIM
Ah, yaudah dah. jangan diributin, biar aje. namenye juga anak baru gede, masih jadi cabe-cabean kalo kate orang-orang mah.
MIMIH IJIH
Idih, Pipih kalo ngomong. kage, Mimih kage rela anak kita dibilang cabe-cabean. Kan itu konotasinye jelek Pih, cabe-cabean itu dicoba-cobain siape aje, tau enggak?
PIPIH AIM
Yah, pipih belom lagi ngarti dah kalo yang kaye begitu.
MIMIH IJAH
Makenye gaul pih, biar ngerti, jangan kerjaannya ngadonin tempe aje.
PIPIH AIM
Dailah, istriku yang cantik pake ngambek segale. cup cup cup, manisku, sayangku, cintaku.
MIMIH IJAH
Ih… gombal.

PIPIH AIM
Biarin! Oh iye, katanye mimih punya goyang baru, pipih mau dong nyobain. apa nama goyangnya, Mih?
MIMIH IJAH
(MELENGOS) Hmmm…. lelaki emang dah.
Goyang oplosan namenye.
PIPIH AIM
Oplosan? Yaudeh yuk Mih, oplosin pipih di kamar.
(PIPIH AIM PUN MENARIK TANGAN MIMIH IJAH DAN KELUAR MENINGGALKAN PANGGUNG)

Adegan 3
MAMAD AME DOWER KAGA BOLEH MASUK SEKOLAH. AKHIRNYA MEREKA MEMUTUSKAN UNTUK NONGKRONG DI WARUNG ES MAS KARSO. MEREKA BERJALAN MASUK DARI ARAH KANAN SEMBARI NGOBROL KAGA KARUAN.
MAMAD
Ah… rese banget tuh bang Adi. gerbang sekolah ditutupnya cepet banget. Baru juga telat 15menit.
DOWER
Ya sudahlah, kau jangan ngegerutu saja. sudah telat begini mending kita nongkrong kan.
MAMAD
Iye, emang. Tapikan….
DOWER
Sudah tak perlu pake tapi-tapian, kita nongkrong saja di warung mas Karso, sekalian beliin aku es nanti. (TERTAWA)
MAMAD
Ah, kampret! Aye mulu perasaan yang traktir. hidup lu itu wer jauh bener dari duit ame bahagie.
DOWER
Kurang asem sekali ucapan kau Mad.
MAMAD
Ya udeh, ayolah kita ke sono. (MEREKA BERDUA BERJALAN MENUJU WARUNG)
MAS KARSO
(MENENGOK KE ARAH MAMAD DAN DOWER) Yah, kedatengan bala lagi nih kayanya.

MAMAD
Halo mas broh!
MAS KARSO
Halo-halo, emang lagi telponan.
DOWER
Judes kali kau mas, kaya perempuan baru datang bulan.
MAS KARSO
gimana ndak judes, pasti kalian kesini gara-gara ndak boleh masuk toh ke sekolah, makanya nongkrong di sini, dan akhirnya ngutang lagi?
MAMAD
Yaelah, woles aje mas. Eni hari aye bayar utang-utang aye. Baru dapet jatah bulanan nih dari Babeh. (MENGELUARKAN DOMPET DAN MEMBAYAR KE MAS KARSO) Nih, aye bayar sekalian tuh sama utang-utangnya orang suseh entu. (MENUNJUK DOWER)
DOWER
Kurang ajar kau Mad.
MAS KARSO
Nah, gitu dong. Oke, aku sudah bisa tebak, pasti kalian mau pesan jus Mangga kan?
MAMAD DAN DOWER
Yoha, mas bro!
MAS KARSO
Siip! Tunggu sebentar.
MAMAD DAN DOWER MENGAMBIL ALAT MUSIK ANDALANNYA. MEREKA MULAI MEMAINKAN LAGU INDIA DENGAN MERDU DAN SYAHDU. TIBA-TIBA MUNCUL SEORANG LELAKI DAN PEREMPUAN IA MENARI PENUH PESONA DAN ROMANTIK. SAMPAI PADA SAAT KEDUANYA BERPEGANGAN TANGAN.
MAMAD
Woi…! Enak aje ye. Pake nari-nari lagi, dikiranya enggak cape ape kite main musik? Udah gitu mesra-mesraan segale. Ngelanggar kode etik kejombloan, tidak berperikamanusiaan, ame apaan lagi dah Wer?
DOWER
Tidak bertoleransi kecintaan.
MAMAD
Nah, entu!
SOBRI
(TERTAWA) Yah, kaga sadar diri ngomong gitu! Heh! Aye tuh anaknye orang tertajir di kampung eni. Berarti aye raja di kampung eni.
MAMAD
Oo… raja ye? Raja dari hongkong!
FATIME
Beibi, kok mereka songong sih? Berani-beraninya sama kamu?
SOBRI
Makanya Beb. Tenang aja, biar aku yang ngancurin nih orang!
FATIME
Hati-hati yah beibi….
MAMAD
Alaaaaaah… beibi-beibi lagi, babi kali? udeh jangan banyak omong. Sini ribut ame aye!
SOBRI
Nantang lo? Oke.
TIBA-TIBA DATANG SOSOK BERBAJU MERAH.
SETAN
Hei penonton…. Tau siapa gue? Gue ini setan tau. (TERTAWA) Suka menggoda orang yang tidak punya iman, contohnya mereka ini. Lihatin nih. (DENGAN SEMANGAT) Bagus… antam aja. Tinju giginya, congkel hidungnya… kita sate…. (TERTAWA)
MUNCUL SOSOK BERBAJU PUTIH.
MALAIKAT
Hei penonton…. saya ini malaikat. Unyu-unyukan. saya selalu menasehati orang-orang supaya tidak berbuat jahat. (KEPADA SETAN) Hei! Jangan macam kamu setan!
Astagfirullah…(PADA MAMAD) jangan ikutin godaan setan. Sabar aja, tahan emosimu, hirup nafas dalam-dalam keluarkan. nyebut-nyebut, but… but… udah gitu aja.
SOBRI
Ayo…! gue habek juga lo! Tinggal pilih mau gue jadiin perkedel, capcay, tongseng, atau gue sate aja sekalian.
SETAN
(TERTAWA) Bagus! Ikuti gue sekarang. Nyet! Sini lo!
SOBRI
Nyet! Sini lo!
SETAN
Banci lo!
SOBRI
Banci lo!
MALAIKAT
Sabar… tenangkan dia. Tahan emosimu, Ini deket sekolahan. (PADA SETAN) baik-baik kalau ngomong ya!
MAMAD
Aye kage mau berkelahi dah! Ini deket sekolahan. Entar kena kasus lagi.
SETAN
Woi Dower! Ayolah lu komporin Mamad. Malu-maluin banget sih kalo kaga jadi ribut.
DOWER
Yailah Mad, udah hajar aja orang kaya begitu. Kasih dia pelajaran. apa perlu aku saja yang maju nih!
SETAN
Bagus Wer! (TERTAWA)
SOBRI
Sok alim… gue gimbal juga lo…!
SETAN
Gimbal aja. Muak juga lama-lama lihat mukanya!
MALAIKAT
Hei jangan suka ngejek. Kena skorsing baru tau….
(KEPADA MAMAD) sudah Mad, sabar! Jangan ditanggapi omongan Sobri.
MAMAD
Udeh ah, aye bener-bener kage jadi mau ribut. kalo tadi aye marah-marah, ye maaf dah ye.
MALAIKAT
Bagus Mad, bagus! (Meledek setan) Aku menang!
SETAN
(GERAM) egggggh…. Eh Mamad! bego banget sih lo. pake minta maaf segala lagi. cemen bener.
(KEPADA DOWER) yaudah Wer lo aja yang maju, malu kalo lu juga kaga jadi ribut. kan lo veteran, jangan cemen kaya si Mamad.
DOWER
Tak kusangka kau secemen itu Mad. Ya sudah aku saja yang maju menghabiskan ini orang, kalau bisa aku pepes dia sekalian.
SETAN
Mantap Wer! Mantap! ikutin gue ya!
Woy banci! Sini kau lawan aku saja! (LOGAT BATAK)
DOWER
Woy banci! Sini kau lawan aku aja!
SETAN
Keren Wer! ikutin lagi!
Kau pikir aku takut sama kau!
DOWER
Kau pikir aku takut sama kau!
SETAN
Muak aku lihat muka kau!
DOWER
Muak aku lihat muka kau!
SETAN
Seperti dempulan panci!
DOWER
Seperti dempulan panci!
SETAN
Mirip boyband Korea lo, banci!
DOWER
Mirip boyband Korea lo, banci!
SETAN
Udah Wer, improvisasi sendiri! cape juga ngikutin logat Batak lo!
DOWER
(BINGUNG) mau ngomong apa lagi ya aku ini? Mad bantulah!
MAMAD
Ogah ah! Aye kage mau ikut-ikutan.
SOBRI
Wah! Si bibir kurang ajar bener dah! lo pikir gue takut sama lo!
MALAIKAT
Sudah sob, jangan ditanggapi! Emang kamu enggak ngeri liat bibirnya? belum lagi kalau kamu jadi ribut sama dia, nanti digigit, bisa-bisa rabies! Ihhh… ngeri!
SOBRI
(MULAI RAGU) Beb! aku ragu nih, kalo aku ngelawan yang bibirnya ngetril ini. ngeri! takut rabies!

FATIME
Betul beibi! aku juga ngeri ngeliat bibirnya! kaya sedotan WC!
SOBRI
Aku lawan kaga nih?
SETAN
Eh! dongo! lo kaga malu kalo lu kaga jadi ribut. kan tadi lu semangat banget mau ributin nih orang. malulah sama cewe lo. cemen lo kalo pulang!
(KEPADA FATIME) Eh! Fatime! jawabnya “lawan!” awas lo kaga jawab lawan!
FATIME
Yaudah beibi enggak apa-apa. lawan aja.
SETAN
Bagus! (TERTAWA)
SOBRI
Oke deh. aku lawan!
AKHIRNYA MEREKA PUN SALING MAJU DAN BERSIAP-SIAP UNTUK NGADU KEKUATAN (RIBUT). MEREKA BERPUTAR-PUTAR DAN SALING BERADU SERANG. NAMUN, TIBA-TIBA DATANG SEORANG GURU YANG MELERAI PERKELAHIAN MEREKA.
PAK WUSWUS
La da la…. anak-anak tuyul pada ribut! Hey berhenti! Hey berhenti, semprul!
MAMAD
waduh, ada pak Wuswus! abis deh nih kena kasus! (KEPADA DOWER) Wer, Wer! ada pak Wuswus tuh, masih aja ribut.
PAK WUSWUS
Dower! Sobri! sudah ndak sekolah! kalian itu malah ribut di sini! malu-maluin sekolah saja. (MENJEWER KUPING KEDUANYA)
DOWER DAN SOBRI
Ampun pak-ampun….
PAK WUSWUS
Ampun-ampun, dasar anak tuyul!
Sudah sana pulang! Besok ketemui saya di ruang BK di jam istirahat.
DOWER DAN SOBRI
Iya pak-iya….
PAK WUSWUS
(MELEPAS KUPING MEREKA) Ya sudah pulang sana!
DOWER
Ayo Mad, kita pulang!
MAMAD
makanye, aye udah bilang tadi jangan ribut. ayo dah kita pulang!
MEREKA PUN PULANG, BERJALAN KE ARAH KIRI.
FATIME
Kamu enggak apa-apa kan beibi? (MEMBERESKAN PAKAIAN SOBRI)
SOBRI
Aku enggak apa-apa kok beb, yaudah yuk kita pulang daripada nanti tambah diocehin sama pak Wuswus. Ribet dia mah!
PAK WUSWUS
Ngomong apa kamu tadi Sobri?
SOBRI
Aduh dia denger lagi. (KEPADA PAK WUSWUS) enggak ngomong apa-apa kok pak. kami pamit pulang pak!
MEREKA BERDUA PUN PULANG SEMBARI BERPEGANGAN TANGAN.
PAK WUSWUS
Dasar anak tuyul. pegang-pegangan tangan depan gurunya begitu. bikin iri saja! (BERJALAN PULANG JUGA. DIPANGGUNG HANYA TINGGAL SETAN DAN MALAIKAT)
SETAN
Ah, dasar semprul. Rese banget sih tuh guru! enggak seru nih jadi ributnya. belum lagi ada yang mokat, eh udah distop!
MALAIKAT
(TERTAWA) syukurin kalah!
SETAN
Ah, rese lo. kerjaannya ganggu gue bertugas aja! yaudaha sekarang kita aja yang ribut. Berani enggak lo?
MALAIKAT
Males!
SETAN
Cemen lo! banci sih lo, jadi kaga mau ribut! bukan cowo lo!
MALAIKAT
Wah-wah-wah! mulai kurang ajar lo Tan! emang kamu pikir saya takut sama kamu?

SETAN
Lah, emang lo berani?
MALAIKAT
Kaga sih! Tapi enggak papa, yaudah deh ayo kita ribut!
SETAN
(TERTAWA) oke, ayo!
MALAIKAT
Et-et, ntar dulu ya. Bismillahirrahmanirrahim!
MEREKA PUN RIBUT DENGAN SALING JAMBAK-JAMBAKAN, HINGGA LAMPU MATI DAN SIAP UNTUK ADEGAN BERIKUTNYA.

Adegan 4
SEBUAH TAMAN DENGAN LAMPU BULAT DI MANE ADE BEBERAPA BANGKU YANG NAMPAK KOSONG. BULAN BULAT BERSINAR. IPEH MEMASUKI PANGGUNG.
IPEH
(MENANGIS)
Kejem! Bener-bener kejem! Katenye cinte tapi ternyate selame die pacaran ame aye die juge macarin cewek laen. Kalo dulu aje, die selalu ngerayu, honey, honey, I love you. Honey, honey, cintaku. Honey, honey, ku sun dulu. Merah bibirmu semerah geloraku padamu. (TERISAK) dasar playboy! Buaye! Sekali Buaye, ye tetep Buaye! Buaye yang pinter ngerayu, tapi setelahnye, semuanye cume bullshit! Pembohong! Pembual! Aye dimaenin, aye ditipu. Aye tertipuuuu! (MAKIN HISTERIS)
(MAMAD DENGAN STYLE ANAK BAND MEMASUKI PANGGUNG. MARAH-MARAH. MENENDANG SEBUAH KALENG MINUMAN)
MAMAD
Dikire sekolahan aje yang penting? Dikire cume nilai rapot doang yang penting? Musik entu kage penting? Semuenye kage adil! Cume gare-gare rapot, angke, kelakuan baika ame kerapian? eh… musik mesti dinomor duain? Tapi nyatenye mereka sibuk! Enyak babeh pade sibuk dan ribut melulu kerjaannye.
(MAMAD MENENDANG SEBUAH KALENG. IPEH MENDELIK KARENA MERASA TERGANGGU)
IPEH
Berisik! Ape kira situ yang punya taman?
(MAMAD MENENGOK KEARAH IPEH SEBENTAR. SEBUAH KALENG DITENDANGNYA LAGI.)
MAMAD
Mase bodo! Kalo semuanye mase bodo, aye pun bisa mase bodo! Ma-se bo-do!

IPEH
Hei, Berisik! Nggak dengar ya?
MAMAD
Woles aje keles. emang ape peduli lo?
IPEH
Heh, ye jelas aye perduli karena elu nendang kaleng itu dan kaleng itu menimbulkan bunyi bising yang membuat risih telinga aye! Ngerti?
MAMAD
Nggak.
IPEH
Busyet dah!
Hei dengar ya? Aye sebenarnya enggak perduli ame lu. Tapi aye bisa perduli kalo elu ganggu ketenangan aye dengan nendang-nendang kaleng kaye begitu!
MAMAD
Itu musik. Aye Cuma kepengen musik. Aye nyari segale sesuatu yang mengandung musik termasuk suara kaleng yang aye tendang ini. Begini ini,
(MENENDANG SATU KALENG LAGI HINGGA MENIMBULKAN SUARA BISING. IPEH MENUTUP TELINGA)
IPEH
(MENJERIT)
Berisiiiiik!
MAMAD
udeh, tau keles!
IPEH
Kalo sudah tahu kenapa ditendang? lu lebih baik pergi sono. Jangan di sini. Di sini taman, tempat yang nyaman. Bukan berisik-berisik begitu! Sakit di kepala, tau nggak?
MAMAD
Terserah, mau sakit di kepala kek, di kuping kek. Yang penting ada irama.
IPEH
Irama, irama, Rhoma Irama…! Suara kaleng gerompangan gitu nggak ada iramanya tau? Nggak ada musiknya! Yang ada Musak!
MAMAD
Musak?? Apaan tuh musak?
IPEH
(TERSENYUM MENYINDIR)
Hmmhh! Mu-sak, musik rusak!
MAMAD
Jadi kalo musak, musik rusak. Nah musik, musik berisik, gitu?
IPEH
Baru seucret-ucret mengenal musik, udah kaya komposer aje lagaknye. Sok tau…
MAMAD
Siapa yang sok tau. Elu yang sok tau. Segalanye emang selalu berkomposisi. Termasuk musik dan gaya hidup.
IPEH
Alahhhhhh, nggak usah berfilosof deh.
MAMAD
Dailah, judes amat. Siapa nama lu?
IPEH
Buat apaan tanya-tanya nama.
MAMAD
Pelit amat sih. Mau tahu nama aja nggak boleh. Nama aye Mamad.
(MENYODORKAN TANGAN) Nama lu…
IPEH
(MENGIBAS TANGAN)
Sudahlah, nggak perlu kenalan. Lagipula apa sih arti sebuah nama?
MAMAD
Wahhh, nama itu penting. Makanye ade sejarah. His-tories!
IPEH
Tapi saat ini elu bukan histories, jadi nggak perlu kita tahu nama.
MAMAD
Oke, sekarang aye manggil elu Kebo aje ye. Setuju?
IPEH
Ehhhh, kurang ajar. elu pikir aye binatang?
MAMAD
Makanye nama itu penting, dan sekarang sebutkan nama lu
(MENYODORKAN TANGAN)
Aye Mamad, dan elu?

IPEH
Bodo!
MAMAD
Ohhh, namamu bodo. yaudeh biar aye tambahin H, jadi bodoh… mau?
IPEH
Sekali lagi elu panggil aye kaye gitu, kaleng-kaleng yang berserakan itu akan berbicara ame lu…
MAMAD
(MELONCAT GIRANG)
Yeahh, I like it! Kaleng-kaleng akan berbicara! berarti mereka akan mengeluarkan bunyi dan bunyi itu mempunyai irama. Fan-tas-tik. Musik terdengar. Nada-nada terangkai dan terbentuk harmoni.
IPEH
Iye, nih! (MENGAMBIL KALENG DAN MELEMPARKANNYA KE MAMAD) Kerompyang, kerompyang, kerompyang, hahahaha…. Rasain tuh kaleng yang bicara.
MAMAD
Jangan ketawa lu! Aye serius.
IPEH BERDIRI LALU MENENDANG-NENDANG KALENG SATU PERSATU. TERDENGAR SUAR BISING. IPEH TERTAWA-TAWA. LAMA KELAMAAN IPEH MENARI. DIA MENENDANG-NENDANG KALENG ATAU MEMBENTUR-BENTURKAN KALENG KE LANTAI HINGGA MENIMBULKAN SUARA BISING.
MAMAD BERGAYA DAN BERNYANYI ALA ROCKER.
IPEH DAN MAMAD TERTAWA-TAWA. MEREKA LALU BERPEGANGAN TANGAN. MEREKA SEPERTI MENDAPATKAN KEBEBASAN DI HATI YANG BISING.
IPEH
(MELEPASKAN PEGANGAN TANGAN DENGAN WAJAH MALU-MALU) Udah ah, aye mau pulang! (LARI KE KIRI)
MAMAD
Hei! Tunggu dulu, nama lu siapa?
IPEH
(BERHENTI DAN MENENGOK KE BELAKANG) Ipeh….
(LALU KEMBALI BERLARI)
MAMAD
Ipeh…. walau pun rada ngeselin, tapi manis bener ye tuh cewe.
bahagia bener kali ye kalo jadi pacarnye? (TEPOK JIDAD) Astgafirullah, ngape aye jadi mikir ke situ ye? ah kage boleh, aye kan udah masuk KJH alias Komunitas Jomblo Happy, lagipula pacarankan ribet. ntar ganggu karier aye dimusik lagi. Daripada lame-lame aye dimari mending aye pulang dah. udeh malem bener. (MAMAD PUN KELUAR)

Adegan 5
MALEM ITU JUGA DI RUMAHNYA SI MAMAD, ADA 3 BANGKU PLASTIK 1 MEJA PLATIK KECIL, DI SITU ADA BABEH PEI DAN ENYAK MUN LAGI RIBUT. MEREKA KERJAANNYE EMANG RIBUT MULU.
BABEH PEI
Mun… Mun! buset dah nih orang kalo gw panggilin ye, kage nyaut-nyaut, kage nongol-nongol. Mun…. Mun!
ENYAK MUN
Berisik bang! beberekan mulu kerjaan lu. Udeh malem nih. Kenape sih?
BABEH PEI
Nah elu kalo dipanggilin kage nyaut-nyaut, udeh budek lu?
ENYAK MUN
Terus aje bang, terus marehin aye. emang aye salah mulu kalo sama abang mah.
BABEH PEI
siape yang mareh-mareh emang?
ENYAK MUN
Nah abang, kalo ngomong same aye kage pernah ade lembut-lembutnye.
BABEH PEI
Lah, bodo amad. Ambekan lu. Oiye, mane si Mamad, tuh anak kage kena kalo dibilangin orang tue ye, udeh malem gini belom pulang juge, pasti keluyuran tuh anak, kalo kage maenan musik dah tuh, gonjrang-gonjreng ame temen-temennye, mau jadi berandalan kali tuh anak.
ENYAK MUN
Dih abang ye kalo ngomong kage pernah diayak dulu, Mamad entu anak abang, orang tue tuh kalo ngomong bise jadi doa buat anaknye. Makenye dijage tuh mulut.
BABEH PEI
Kenape lu jadi nasehatin gue, nasehatin noh anak lu.
ENYAK MUN
hmm…. gitu tuh kelakuan abang, kage kena juge kalo orang nasehatin. pantesan si Mamad kaye begitu juge. sama kaye babehnye. makenye bang jangan nyalahin anak aje kerjaannye, abang ngace juge harusnye, pan buah itu jatuh kage jauh dari poonnye.
BABEH PEI
Emang udeh mulai kurang ajar lu ye ame laki. Gare-gare didikan lu juge tuh si Mamad kurang ajar. Kage becus lu jadi orang tue.
ENYAK MUN
Terus aje bang, terus salahin aye. di dunia eni emang abang doang dah yang bener. udeh mulai besok abang urusin deh tuh si Mamad, biar jadi anak yang bener, aye mau pulang aje ke rumah orang tue aye.
BABEH PEI
Maksud lu ape? minte cere’ lu?
ENYAK MUN
Iye, bang! aye bosen tinggal ame abang kalo cuma jadi bahan celotehan abang doang.
BABEH PEI
Kurang ajar lo! (MELAYANGKAN TANGAN INGIN MENAMPAR)
MAMAD MASUK DENGAN SEGERA.
MAMAD
Stop! (BERTERIAK) Jangan nampar enyak, beh!
BABEH PEI
Eh, dateng juge lu anak kage tau diri! darimane aje lu? dateng-detang tibe-tibe bentak-bentak orang tue.
MAMAD
Aye udah dari tadi di samping, Beh. Aye denger ape yang babeh ame enyak ributin. bingung aye, kenapa sih babeh ame enyak kerjaannye tiap hari ribut mulu? ape gare-gare aye? semue gare-gare aye kan? kayenye musibah bener ye punye anak kaye aye, ngelawan mulu, kage patuh same orang tue, kage bisa dinasehatin, bandel dan hal-hal laen yang bikin babeh ame enyak ribut. kalo gitu mending Mamad aje yang pegi dari mari, daripada malah bikin babeh ame enyak ribut mulu bahkan bikin babeh ame enyak cere’. (MAMAD PUN LANGSUNG PERGI KELUAR DENGAN SESAL DAN SESAK DI HATINYA)
BABEH PEI DAN ENYAK MUN
(BERTERIAK) Mamad! Mamad!

Adegan 6
DI TENGAH MALAM, GELAP, DI DEPAN WARUNG ES MAS KARSO, MAMAD MELAMUN, SEDIH, KECEWA, SESEKALI TERIAK KAGE JELAS, NAMUN TIBA-TIBA DATENG 2 CEWEK PAKE BAJU SEKSI DAN NGIKUT DALAM KESEDIHAN MAMAD.
CEWEK 1
Ganteng…. jangan menangis dong, kamu lagi sedih ya? kok muram saja dari tadi?
CEWEK 2  
Heh cewek ganjen! Tugas kita ke sini adalah menjadi teman bagi dia, bukannya dimodusin, ingat ya!

MAMAD
Temen?
CEWEK 1 dan 2
Ya... teman.
MAMAD
Gimane bisa jadi temen? kenal aje belon, ketemu aje baru eni. ngape lu pade ngaku temen aye?
CEWEK 1
Kamu jangan berpikir macam-macam, aneh-aneh, sayang. Nanti malah jadi pusing sendiri.
CEWEK 2
Kami berdua mengaku teman karena memang kami suka menjadi teman siapa saja yang sedang sedih, susah, gelisah, merasa tersingkirkan, merasa terasingkan, teman bagi orang yang kesepian.
CEWEK 1
Pokoknya teman bagi orang yang sedang membutuhkan teman.
MAMAD
Lah, bise gitu ye. Terus kalo emang kalian udeh jadi temen aye, kalian mau ngapain?
CEWEK 1
Kita berdua mau menawarkan kamu obat pelipur lara, biar hidup kamu terus bahagia, sayang. Mau?
MAMAD
Obat? Lah, pan aye kage sakit? kenape mau dikasih obat?
CEWEK 2
Kamu itu sakit, sakit yang tempatnya di hati?
MAMAD
Hmm… kenape lu jadi pade sok tau? emang kalo hati aye sakit, terus ade obatnya?
CEWEK 1
O... banyak... banyak banget obatnya. Makanya kami ingin menawarkan obat pelipur lara, kan sebagai teman sejati, kami akan berusaha menghiburmu setiap waktu, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik.
MAMAD
Tiap detik? Kok bise gitu?
CEWEK 2
Bisa... bisa banget! Kalau bersama orang-orang seperti kami ini segala sesuatu bisa terjadi begitu saja.
MAMAD
Oh, gitu?
CEWEK 1
Iya, sayang.
MAMAD
Ah mase dah?
CEWEK 1
Sungguh, percaya sama aku! (SAMBIL MERANGKUL MAMAD)
MAMAD
Hmm, oke deh. terus gimane carenye biar kite bisa terus betemen?
CEWEK 2
          Mudah saja, setiap kali kamu butuh teman, kamu akan aku kasih obatnya. Obat mujarab menghilangkan rasa sepi dan rasa sedih, Obat pelipur lara. Sebagai teman baru, kuberi kamu obat ini secara cuma-cuma, geratis.
CEWEK 1
Cobalah, kamu pasti suka.
MAMAD
(MENERIMA OBATNYA) Siip deh, makasih ye.
CEWEK 1
Iya, sayang, ya sudah kita pulang duluan ya. byeeee! (MELAMBAIKAN TANGAN DAN KISSBYE)
CEWEK 1 DAN CEWEK 2 PUN PERGI MENINGGALKAN MAMAD. MAMAD DENGAN WAJAH HERAN TERUS MEMPERHATIKAN OBAT TERSEBUT, TETAPI LAMA KELAMAAN DIA PUN KETAGIHAN DENGAN OBAT ITU.

Adegan 7
MAMAD UDEH MULAI KETAGIHAN AME YANG NAMANYE NARKOBA, TIAP HARI BARANG-BARANG YANG DIE PUNYA DIJUALIN BUAT BELI NARKOBA. SUASANA HANYA PADA SAAT MAMAD TRANSAKSI DAN MAKE TANPA ADA DIALOG.
CEWEK 1
(TIBE-TIBE MUNCUL DI HADAPAN MAMAD AME CEWEK 2)  Mamad sayang... Mamad kecilku... aku membawakan kamu oleh-oleh, ayo kamu mau tidak?
MAMAD
Ye, iye… barang entu kan, sini kasih aye, aye butuh bener, tolong dah!
MAMAD NGEJAR IMING-IMING YANG DIKASIH CEWEK 1, TAPI CEWEK 1 SENGAJA MENGGODANYE. HINGGE PADE AKHIRNYE CEWEK 2 MENGHENTIKANNYE.
CEWEK 2  
Tetapi tidak segampang itu Mamad, kamu harus membayarnya dulu, juga membayar utangmu yang lalu. kalau tidak bisa. maaf, kami tak bisa memberikannya padamu...
MAMAD
Tolonginlah... aye butuh bener sekarang, tapi aye kage punye duit sepeserpun. Tolongin aye... aye bakal mati kalo kalian kage ngasih barang entu. Tubuh aye udeh mulai ngegigil, badan aye udeh mulai gemeter, jantung aye deg-degan, rasenye mau pecah pala aye nih. tolongin aye lah.
CEWEK 2
Tak bisa Mamad! Sebelum kamu memberikan uangnya.
MAMAD
semue barang yang aye punya udeh abis aye jual, aye pan udeh pegi dari rumah, aye bener-bener kage punya duit.
CEWEK 2  
Kalau begitu carilah.
MAMAD
Kemane aye harus nyari?
CEWEK 2
Banyak jalan kan menuju Roma.
MAMAD
Emang aye bise ape?
CEWEK  2
Kamu kan punya otak, gunakanlah otakmu?
MAMAD
Tapi otak aye udeh mampet, lu pade racunin ame obat-obatan entu.
CEWEK 2  
Kuberi waktu beberapa saat lagi, kamu pasti bisa mencari uangnya, tetapi kalau memang tak bisa, ya sorry kalau pertemanan kita hanya sampai di sini. Selamat tinggal....
CEWEK 1  
Good bye my honey... bye-bye my little Mamad... (KISS BYE)
CEWEK 1 DAN 2 PUN PEGI NINGGALIN MAMAD DALEM KEADAAN PUCET, NGEGIGIL KESAKITAN KARNE KETAGIHAN. HINGGE DATENG SEORANG LELAKI MENDEKATINYE YANG TERNYATE GURU DI SEKOLAHNYE MAMAD, PAK WUSWUS.
SETAN
Woi penonton! Gue masuk lagi ya. hahaha (TERTAWA)
(SEPERTI BERBISIK KEPADA MAMAD) Mamad… Mamad! Lu galau ya? hahaha (TERTAWA)
MAMAD
(GARUK-GARUK KUPING DAN TAK LAMA PAK WUSWUS MASUK)
Waduh! Pak Wuswus lagi, mati deh nih aye!
SETAN
Tenang Mad! Santai aja keles! Ini justru kesempatan lu dapet duit bakal beli obat lagi. Liat noh dompetnya si Wuswus, kayanya isinya banyak, udah colong aja!
MAMAD
Oh iya, bener juga lu tan! (SALING TOS)
SETAN
Loh kok dia bisa tos sama gue? ah biarin deh! (MELIHAT AKSI MAMAD)
PAK WUSWUS LEWAT DI DEPAN MAMAD. MAMAD PUN SENGAJE NABRAKIN SEMBARI TANGAN MAMAD LIHAI MEMAINKAN JARI-JARINYE NGAMBIL DOMPETNYE PAK WUSWUS, PAK WUSWUS TIDAK MERASE KALAU DIAMBIL DOMPETNYE.
MAMAD
Maaf pak Wus! aye kage sengaje.
PAK WUSWUS
Loh, kamu toh Mad. Sedang apa kamu di sini? Kamu juga pucat? Sakit?
MAMAD
Oh, kage pape kok pak, aye cuma kecapean aje.
PAK WUSWUS
Benar cuma cape? Wajah pucat begini, tubuhmu juga menggigil, sudah ke dokter belum?
MAMAD
Enggak pak, nanti juge aye sembuh sendiri.
PAK WUSWUS
Oh ya, kenapa kamu tidak pernah masuk sekolah minggu-minggu ini?
MAMAD
Minggu pan emang kage sekolah pak! (TERTAWA KECIL)
PAK WUSWUS
Haduh, semprul. (MENOYOL) Bukan begitu maksud bapak.
MAMAD
Iye pak, aye ngerti, tadi aye cume becande aje. kemaren-kemaren entu aye pegi ke luar kota bareng enyak babeh. makenye sekarang aye kecapean bener.
PAK WUSWUS
Oh, begitu toh, ya sudah kalau begitu bapak pulang dulu, kalau tidak mau ke rumah sakit, ya istirahat saja toh di rumah, Mad.
MAMAD
Iye pak, makasih ye.
PAK WUSWUS BERJALAN NINGGALIN MAMAD SENDIRIAN.
SETAN
Mantaaaap Mad! Lumayan kan dompetnya si Wuswus itu. Coba buka.
MAMAD
(TERSENYUM GIRANG) Makasih ye pak atas dompetnye! (SAMBIL NGEBUKA DOMPET) yah cuma segini doang! cuma duit seratus ame serebu, (MIKIR) tapi kalo ditotal-total berarti seratus rebu dong ye. (TERTAWA STRESS) yah, bodo amat, lumayan, daripada lumanyun kaye si dower. Hmm. kayenye aye mesti nyari mangsa laen nih.
SETAN
Betul, Mad. Duit segitu mane cukup, dasar miskin tuh guru. Entar gue suruh miara tuyul tuh dia biar cepet kaya.
SETELAH ENTU, MUNCUL SEORANG ANAK KECIL MEMAKAN PERMEN KOJEK.
SETAN
Mad, liat mad. ade mangsa tuh! Hajar bleh! Kali aja tuh bocah alus bawa duit banyak!
MAMAD
Yah bocahb yang lewat! paling duitnya recehan.
SETAN
Ye lumayan kali Mad (MENOYOL) lagipula anak bocah ini kaga berbahaya. udeh palak aje.
MAMAD
Yaudah dah, biar cuma recehan yang penting duit juge.
SETAN
Nah! gitu dong!
MANCUNG
(BERLOMPAT-LOMPATAN SAMBIL NYAYI)
MAMAD
Heh bocah pesek! berisik!
MANCUNG
Enak aje, Mancung dibilang pesek!

MAMAD
Idung ngumpet gitu dibilang mancung!
MANCUNG
Eni bukan masalah idung bang, tapi name aye emang mancung!
MAMAD
(GARUK-GARUK PALA) ah bodo amat! Lu punye duit kan? kemariin sini duit lu!
MANCUNG
Lah, kenape abang minte duit sama Mancung, emang  Mancung emaknye abang!
SETAN
Cerewet juga nih bocah! Udeh Mad, langsung paksa aja!
MAMAD
Pinter ngomong juge ye lu bocah! Sini kemariin duit lu! (MENGAMBIL PAKSA)
MANCUNG
(TERIAK HISTERIS) Jangan bang! entu duit mancung! (MENANGIS)
MAMAD
Wah! nih bocah kecil-kecil duitnya banyak juga! hahaha. mantaaap! pasti anak orang tajir nih!
SETAN
Mantaaaap kan Mad.
MANCUNG
Balikin kage duit Mancung! Kalo kage….
MAMAD
Kalo kage apeh, bocah alus?
MANCUNG
Kalo kage, Mancung gigit nih!
MAMAD
Hahaha…. Gigit aje nih kalo bise!
MANCUNG
Okeh! (MANCUNG MENGEJAR-NGEJAR MAMAD. LALU DISUSUL OLEH SETAN, TAPI BELUM SEMPAT KETANGKAP TIBA-TIBA DATANG IPEH YANG TERNYATA ADALAH EMPOKNYA SI MANCUNG DAN IKUT-IKUTAN MENGEJAR MEREKA)
SETAN BERHENTI DULUAN DAN TIDURAN KE PINGGIR KARENA KECAPEAN

IPEH
(BERHENTI, KECAPEAN) Heh! pada apa sih lu pade? STOOOOOOOOOOOOOOOP! (TERIAK)
MEREKA PUN BERHENTI SEMUA.
MANCUNG
Eh. mpok Ipeh! eni mpok abang eni ngambil duit Mancung!
MAMAD
(KAGET) Ipeh?
IPEH
Mamad?
(KEDUA MATA MEREKA MENYATU DALEM SATU TATAPAN, ADA CINTE, ADE RINDU DALAM MATE MEREKA)
MANCUNG
Heh! kenape jadi liat-liatan gitu dah!
mpoooooook Ipeeeeeeeh! (MENARIK TANGAN IPEH)
 IPEH
Etdah. Apa-apaan sih lu Cung, narik-narik kaye begitu?
MANCUNG
lah-lah-lah…. empok yang kenape kaye orang kesambet gitu liat die?
IPEH
Die entu Cung, cowok yang sering mpok ceritain di rumah.
MANCUNG
Oh… jadi die yang empok sukein slame eni mpok! Ganteng sih tapi die maling mpok!
MAMAD
Ipeh! Maaf peh! Aye bener-bener kepepet banget butuh duit. makanye aye tadi ngambil duitnye si Mancung!
IPEH
Jadi bener apa yang dibilang Mancung kalo lu ngambil duitnye die?
MAMAD
Iye Peh! Ini gare-gare aye kecanduan obat-obat yang kage jelas, yang ngebuat hidup aye ancur begini Peh!
IPEH
Kecewa aye sama lu Mad.

MAMAD
Emang apa yang udeh diomongin Mancung entu bener, kalo lu suke same aye Peh?
IPEH
Iya, aye suke same lu Mad, tapi bukan Mamad yang sekarang, bukan Mamad yang pecandu Narkoba.
MAMAD
Aye bakal berenti pake narkoba Peh, aye bakal berusaha! Tapi tolong lu bantu aye ye? Aye butuh orang yang selalu merhatiin dan motivasiin aye. dan lu Peh orang yang pertame bise bikin aye jatuh ati, setelah pertemuan kite waktu entu, aye jadi suke sama lu. lu mau kage jadi pacar pertame dan terakhir aye? aye mau melepas masa kejombloan eni.
MANCUNG
Jangan mao mpok!
IPEH
Diem lu Cung! (MENDEKAP MULUT MANCUNG)
Aye bakal berusahe ngebuat lu berubah dan enggak ketergantungan lagi ame narkobe. aye bakal merhatiin lu, motivasiin lu. aye mao jadi pacar lu Mad. Asal lu janji bakal berubah dan bener-bener jadi pacar aye yang setie?
MAMAD
(DENGAN CEPAT) Iye peh! iye! Aye janji. Jadi gimane, Ipeh mau jadi pacar Mamad?
IPEH
(MENGANGGUK)
MAMAD
(NYAMPERIN IPEH DAN MEMELUKNYE)
MANCUNG
Heh udeh-udeh! ade anak kecil nih!
IPEH
(MUKA MALU) Yaudeh, sekarang Mamad mesti pulang. Temuin orang tue Mamad. Minta maaf atas ape yang udeh Mamad lakuin slame eni.
MAMAD
Iye sayang, Mamad bakal lakuin ape yang Ipeh minta kalo emang entu yang terbaik buat Mamad, dan juge buat kite.
MANCUNG
Entar dulu, balikin sini duit Mancung!
MAMAD
Oh iya, maaf ye Mancung! eni duitnye!
IPEH
(TERSENYUM-SENYUM) Yaudeh, yuk kite pulang bareng-bareng!
MEREKA PUN PULANG DAN MENINGGALKAN PANGGUNG. NAMUN TIBA-TIBA DOWER MASUK.
DOWER
Hei penonton! Kurang ajar betul itu si Mamad, akhirnya dapat cewe juga dia. Sekarang Cuma tinggal aku saja yang jomblo. kayanya aku juga mesti cari pacar, biar tak dikata jomblo sepanjang hayat lagi, bukan begitu?
Jomblo coba-coba pacaran, kan boleh saja. Asal jangan coba-coba narkoba! betul kan betul?
Mamad, tunggu aku mad! (BERLARI KEARAH KANAN MENGEJAR MAMAD DAN IPEH, EH KEJATOH KARENA KESANDUNG SETAN YANG LAGI TIDUR, BARU ABIS ITU NGESOT-NGESOT KELUAR PANGGUNG)
MALAIKAT
Heh! Setan! Bangun! Udah abis pementasannya!
SETAN
Loh-loh-loh! kok udeh abis? gimane abisnye?
MALAIKAT
Udah! Aku yang menang!
SETAN
Loh kok bisa?
MALAIKAT
Ya bisalah, dengan kekuatan C.I.N.T.A. cinta! Udeh ah! Bye-bye!
SETAN
Etdah. Tungguin gue! Hei Penonton udeh dulu ye pementasannye! Aye juge mau nyari cinte kalo kaye gitu! (KABUR KELUAR PANGGUNG)
LAMPU MATI, TIRAI TERTUTUP DAN PERTUNJUKAN SELESAI.

 


Terinspirasi dari beberapa naskah:
1 Cintenye Mat Sani karya M. Sinar Hadi.
2 Nina Bobo karya Roy Agustinus.
3 Joko Semprul karya Puthut Buchori.




© Metode Penggubahan Kreatif, 2014